SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Senin, 24 November 2014
BS logo

Negara Makin Kacau

Polisi Tembak Warga Di Mapolsek Binanga, Sumut
Senin, 25 Maret 2013 | 5:58

Ilustrasi polisi tembak warga. [Dok.SP] Ilustrasi polisi tembak warga. [Dok.SP]

[MEDAN] Korban penembakan polisi saat melakukan demo menuntut tiga orang warga agar dibebaskan di Markas Kepolisian Sektor (Mapolsek) Binanga, Kecamatan Aeknabara Barumun, Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara (Sumut), Sabtu (23/3), membuat pengaduan ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo, dan  Komisi III DPR RI.
 
"Kami akan menuntut keadilan, meminta Komnas HAM, Kapolri dan Komisi III DPR RI, membentuk tim untuk mengusut kasus penembakan itu. Oknum polisi yang melakukan penembakan harus diproses sesuai dengan prosedur hukum," ujar Piaguna (52), istri korban penembakan yang mengalami luka tembak di bagian dada, Tengku Kahar Barugam, saat dihubungi, Senin (25/3).

Piaguna mengaku merasa trauma mengalami kejadian tersebut, apalagi ketika melihat langsung suaminya  tersungkur akibat ditembak. Tidak hanya suaminya yang menjadi korban penembakan.

Delapan orang warga yang turut berdemo juga berjatuhan akibat tertembak polisi. Saat itu, situasi di depan kantor polisi benar - benar menakutkan. Polisi dituduh melakukan penembakan tanpa belas kasihan.

Huala Pulungan (18), korban yang mengalami luka tembak di bagian paha sebelah kiri menjelaskan, perlawanan masyarakat terhadap polisi karena langsung melepaskan tembakan saat berdemo menuntut tiga rekannya, yang ditangkap dalam kasus sengketa lahan tanah ulayat, supaya dibebaskan.

Massa berasal dari Desa Aek Buaton, Kecamatan Aeknabara Barumun, Kabupaten Padanglawas.

“Kami datang bagus-bagus, tiba-tiba polisi langsung melakukan tembakan ke arah kami. Makanya kami melakukan perlawanan untuk membela diri," ungkapnya.

Huala juga tersungkur berlumuran darah akibat tertembak polisi di halaman Mapolsek. Dia pun menuntut keadilan supaya oknum polisi yang melakukan pelanggaran hak asasi itu agar diproses, dan diajukan secara pidana sampai tingkat pengadilan.

Selain Tengku Kahar Barugam dan Huala Pulungan, warga korban lain adalah Hasrian Harahap (43) mengalami luka tembak di bagian punggung, Sundut (28) mengalami luka di kaki kanan, Rustam Nasution (35) luka tembak di kaki kiri, Subur Pulungan mengalami luka tembak di kaki, Amir Kothib Pulungan (52) luka tembak di tangan kanan dan  Harayan Pulungan (60).

Harayan  mengalami luka di kepala akibat dipukul oknum polisi menggunakan senjata. Selain itu, ada dua wanita yang terluka akibat tertembak yakni, Masdawiyah Daulay (50) mengalami luka tembak di paha sebelah kiri dan Murni Siregar (52), mengalami luka tembak di tangan kiri dan rusuk sebelah kiri. Seluruh korban masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum (RSU) Tapanuli Selatan.

Kapolsek Binanga AKP Sahnur Siregar mengatakan, polsek yang di bawah pimpinannya diserang warga sekitar pukul 07.00 Wib.

Jumlah warga yang mendatangi kantor polisi itu mencapai ratusan orang. Mereka datang dengan mengendarai angkutan L 300 dan puluhan sepeda motor, membawa parang, kayu broti dan batu. Setibanya di depan polsek, massa langsung membuat keributan sambil berteriak - teriak.

"Mereka menuntut agar tiga orang warga yang ditangkap, Sabtu dini hari itu, supaya dibebaskan. Saya langsung keluar dari rumah dinas, dan menyampaikan tidak bisa menuruti permintaan tersebut. Sebab, tiga orang warga itu merupakan tangkapan Polres. Mereka tetap memaksa kemudian melempari Polsek, bahkan sampai memukul saya," jelasnya. Sahnur juga mengaku sempat diseret - seret massa.

Menurutnya, tembakan peringatan sebagai standart operasional prosedur (SOP) ke udara sudah dilepaskan, namun massa semakin anarkis melempari kantor, sehingga kaca - kaca jendela berpecahan. Anggota akhirnya melepaskan tembakan ke arah bagian kaki. Sahnur juga mengklaim empat anggotanya terluka akibat aksi anarkis massa tersebut.

Kepala Desa Aek Buaton, Hosni Mubarak Nasution menyampaikan, ratusan massa yang mendatangi Mapolsek Binanga tergabung dari empat desa, masing-masing, Aek Buaton, Hutabargot, Sidongdong dan Batu Dundung.  

Massa mendatangi Polsek atas penangkapan Banua (43) Zul Abdi Nasution (26) dan Tongku Nasution (19). Massa menuntut ketiga rekannya itu agar dilepaskan.

Menurutnya, latar belakang dari kasus itu berawal dari sengketa lahan seluas 5.500 hektare (Ha), yang diklaim sebagai tanah adat. Kasus itu terjadi sejak tahun 1996, yang dikuasai oleh oknum anggota DPRD berinsial AH.

Bahkan, oknum dewan itu disebut - sebut sudah melego tanah ulayat seluas 1000 Ha kepada perusahaan milik BUMN. Saat ini, lahan yang dikuasai oknum itu tinggal 250 Ha, dan selebihnya dikuasai pengusaha lokal berinisial HH.

Masyarakat setempat juga turut menggarap tanah ulayat sebagai bagian dari haknya. Hosni juga mengaku merasa bingung atas dasar polisi melakukan penangkapan terhadap tiga orang warga yang kemudian ditahan.

Dia tidak mengerti jika ada pesanan dari pihak lain di balik kasus penangkapan itu. Sebab, lahan yang digarap masyarakat itu merupakan tanah adat.

Seiring dengan kejadian pengrusakan kantor polisi dan penembakan terhadap pendemo, polisi kemudian melakukan penyisiran.  

Sebanyak 8 orang warga kemudian ditangkap. Mereka adalah Ridho Nasution (63) warga Desa Aek Buaton, Saunan warga Desa Batu Sundung, Ahmad Zajuli (28) warga Desa Aek Buaton, Mangaraja (65) warga Desa Aek Buaton.

Selain itu, polisi juga meringkus  Maradoli (45) warga Desa Aek Buaton, Pamdina warga Desa Aek Buaton dan  Armadi sopir Kades warga Desa Sibontar.

Bahkan, seorang wanita separuh baya, Masdah (40) warga Aek Buaton, juga diamankan. Masyarakat merasa resah akibat adanya aksi "sweeping" tersebut. [155]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!