SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 2 Oktober 2014
BS logo

RS Harapan Kita Layani 3.000 Pasien Jantung/Tahun
Sabtu, 2 Februari 2013 | 10:45

Ilustrasi operasi jantung [google] Ilustrasi operasi jantung [google]

[JAKARTA] Penyakit tidak menular kini jadi ancaman bagi sebagian besar negara di dunia, sehingga Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan untuk mengendalikannya.

Salah satunya adalah penyakit jantung koroner yang menjadi penyebab kematian nomor satu di Indonesia.

Di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, sebanyak 144.820 pasien dengan keluhan jantung dan penyakit pembuluh darah lainnnya yang datang berkunjung pada tahun 2012.

Hampir 80% atau sekitar 112.368 adalah pasien umum atau peserta Jamkesmas, Askes, Gakin dan jaminan kesehatan lainnya, sedangkan 33.366 adalah pasien privat atau yang membayar dari kantong sendiri.

Jumlah ini cenderung meningkat setiap tahunnya, antara sekitar 5-15%.  Dari total pengunjung di RS ini, yang paling banyak kasusnya atau sekitar 3.000 lebih adalah jantung koroner.

Jumlah ini hampir ada setiap tahunnya. Sebanyak 2.500 pasien jantung koroner tanpa tindakan bedah, dan sisanya dengan bedah. 

Hampir separuh dari pasien jantung koroner yang datang ke rumah sakit ini sudah pada stadium lanjut dan harus dilakukan tindakan besar atau operasi. Bahkan banyak juga yang dalam keadaan otot jantung rusak parah dan mengalami gagal jantung, sehingga harus ditransplantasi.   

Gaya Hidup   Direktur Medis dan Keperawatan RS Harapan Kita dr Tri Wisesa Soetisna, mengatakan, tingginya kasus jantung koroner ini menggambarkan penyakit ini mengancam masyarakat Indonesia.

Salah satu pemicunya adalah gaya hidup, seperti makan makanan yang berlemak, garam dan gula yang berlebih, kurang aktivitas fisik, alkohol dan merokok.  Juga faktor risiko jantung koroner yang tidak terkontrol.

Namun, masyarakat kurang menyadarinya karena dampaknya tidak langsung, tidak seperti penyakit menular atau infeksi. 

“Gaya hidup  seperti suka makan junk food, selalu di atas mobil tidak biasakan jalan, selalu menggunakan lift dan tidak tangga, terutama merokok. Kelihatannya ini sederhana tetapi mereka adalah faktor risiko atau pemicu penyakit kardiovaskuler. Ada juga orang yang punya risiko jantung tetapi tidak dikendalikan,” kata Tri Wisesa seusai menerima kunjungan delegasi negara APEC perihal Health Care Associated Infections (HALs) di RS Harapan Kita, di Jakarta, Jumat (1/2). 

Kunjungan ini untuk meninjau langsung fasilitas kesehatan di RS Harapan Kita, terutama terkait bagaimana standar dan upaya RS ini untuk mencegah infeksi yang terjadi  di RS, dan perlindungan pasien.

Tri Wisesa menambahkan, lebih parah lagi usia pasien jantung koroner yang datang ke rumah sakit ini semakin muda.  Dibanding pasien lima tahun lalu yang rata-rata usianya di atas 40 sampai 60 tahun, sekarang bergeser ke usia lebih muda yaitu 30 tahun.

Tetapi, kemungkinan jumlah pasien yang berkunjung ke RS Harapan Kita akan menurun di tahun-tahun mendatang. 

"Sebab setelah diberlakukannya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan pada Januari 2014 nanti, sistem rujukan akan diperbaiki. RS hanya menerima pasien yang kondisinya berat atau tidak tertangani, sedangkan yang ringan ditangani di puskesmas,” ujarnya.

Direktur Umum dan Sumber Daya Manusia RS Harapan Kita dr Iwan Dakota, mengatakan, jantung koroner  adalah penyakit yang paling tidak tertangani di  rumah sakit di daerah, dan yang paling banyak dirujuk ke RS ini.

Tingkat kematiannya pun tinggi, karena bisa menyebabkan serangan jantung. Sementara rumah sakit di daerah masih minim SDM dan peralatan untuk penanganan.  

Jantung koroner bisa terjadi bila pembuluh darah arteri koroner, yakni pembuluh darah di jantung yang berfungsi menyuplai makanan bagi sel-sel jantung,  tersumbat atau menyempit karena endapan lemak, yang secara bertahap menumpuk di dinding arteri.

Kurangnya pasokan darah karena penyempitan arteri koroner mengakibatkan nyeri dada yang disebut angina, yang biasanya terjadi saat beraktivitas fisik atau mengalami stress. Bila darah tidak mengalir sama sekali karena arteri koroner tersumbat, penderita dapat mengalami serangan jantung yang mematikan.

Serangan jantung tersebut dapat terjadi kapan saja, bahkan ketika sedang beristirahat. Penyakit jantung koroner juga dapat menyebabkan daya pompa jantung melemah sehingga darah tidak beredar sempurna ke seluruh tubuh (gagal jantung).

Penderita gagal jantung akan sulit bernafas karena paru-parunya dipenuhi cairan, merasa sangat lelah, dan bengkak-bengkak di kaki dan persendian. Iwan mengatakan, untuk penatalaksanaan penyakit jantung di daerah, RS Harapan Kita sebagai pusat jantung nasional membekali para dokter di daerah dan tenaga kesehatan lainnya dengan keahlian untuk tindakan serangan jantung.

Mulai dari pengenalan gejala-gejala jantung koroner maupun serangan jantung sampai kepada pemberian obat-obatan untuk menghancurkan pembekuan darah. Bahkan, di beberapa RS di daerah dibekali keahlian untuk melakukan tindakan serangan jantung tanpa obat-obatan, yakni membuka sumbatan jantung koroner dengan teknologiPercutaneous Coronary Intervention (PCI). 

“Selain petugas kesehatan, masyarakat juga diberikan sosialisasi bagaimana penanganan serangan jantung, terutama pemberian obat untuk satu jam pertama terjadinya serangan, sebelum penderita dibawa ke rumah sakit. Pertolongan satu jam pertama serangan jantung akan menyelamatkan nyawa penderita,” kata Iwan. [D-13]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!