SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 30 Oktober 2014
BS logo

Pangdan IV Diponegoro Bantah

DPR Desak Polisi Usut Tuntas Pelaku Hingga Komandan Angkatan
Sabtu, 23 Maret 2013 | 18:37

Panglima Kodam IV Diponegoro, Mayor Jenderal Hardiono Saroso (kiri). [Antara] Panglima Kodam IV Diponegoro, Mayor Jenderal Hardiono Saroso (kiri). [Antara]

[JAKARTA] Kasus penembakan empat tahanan yang diduga dilakukan oleh oknum Kopassus TNI AD ini menunjukkan TNI belum mengubah mindset paradigmanya.

Karena sejak reformasi salah satu agenda penting yakni penegakan hukum (supremasi hukum).

Hal itu dikatakan anggota Komisi III DPR RI, Ahmad Yani di Jakarta, Sabtu (23/3), menyikapi pembunuhan keji yang dilakukan sekelompok pria bersenjata dan terlatih di LP Sleman.

Yani mengatakan, kasus ini menunjukkan arogansi kekuasaan dengan melakukan pembantaian.

“Padahal hukum sedang berproses. Kami meminta, kasus ini harus segera diusut tuntas. Tidak hanya para pelakunya namun aktor intelektual termasuk komandan angkatan,” katanya.

Pangdam Bantah

Sementara  itu, Panglima Kodam IV Diponegoro Mayor Jenderal Hardiono Saroso menegaskan, penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Cebongan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu dinihari tidak ada hubungannya dengan Satuan Kopassus.

"Pelaku adalah kelompok tidak dikenal, dan tidak ada hubungannya dengan Kopassus," kata Hardiono di Lapas Sleman, Sabtu.

Menurut dia, anggota TNI AD yang meninggal dunia dalam kasus pengeroyokan di salah satu tempat hiburan di Sleman beberapa waktu lalu juga bukan anggota Kopassus.

"Sertu Santosa yang menjadi korban dalam kejadian pengeroyokan di tempat hiburan adalah anggota Intel Kodam IV Diponegoro yang sedang menjalankan tugas. Dulu memang bertugas di Kopassus, namun saat kejadian sudah tidak lagi," katanya.

Ia mengatakan, pihaknya akan membantu Polda DIY untuk mengungkap kelompok pelaku penyerangan Lapas Cebongan.

"Tugas saya di wilayah Yogyakarta membantu Polda DIY mengungkap pelaku, dan kami juga tidak akan berspekulasi," katanya.

Ia mengatakan, kelompok pelaku bersenjata api dan terlatih itu bukan indikasi pelaku dari militer.

"Kelompok teroris juga terlatih, mereka juga bersenjata api dan dapat membuat bom. Yang terlatih belum tentu tentara," katanya.

Hardiono mengatakan, kelompok-kelompok pengacau atau preman diharapkan tidak lagi melukai hati rakyat.

"Preman jangan lagi lukai rakyat, jangan lukai polisi dan tentara yang sedang bertugas," katanya. [Ant/L-8]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!