SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 23 Oktober 2014
BS logo

Jangan Cuma Aiptu Sitorus, Usut Juga Dugaan Rekening Gendut Para Jenderal Polisi
Senin, 20 Mei 2013 | 7:44

Aksi menuntaskan rekening gendut milik Polri. [google] Aksi menuntaskan rekening gendut milik Polri. [google]

[MEDAN] Polri diminta harus berani mengungkap kasus dugaan rekening gendut  para jenderal Polisi, sehingga tidak menimbulkan kesan di masyarakat bahwa institusi Tri Brata tersebut bukan  hanya berani mengungkap rekening Bhintara Polri, Aiptu Labora Sitorus.  

"Dalam penegakan hukum, tidak ada istilah pengecualian antara jenderal dengan bintara, juga tidak memandang penguasa dengan orang kecil," tegas Koordinator Masyarakat Anti Korupsi, Agus Yohanes kepada SP, saat dihubungi, Senin (20/5).  

Agus mengatakan, penanganan kasus dugaan rekening gendut, berdampak pada ketimpangan dan ketidakadilan, jika hanya menyentuh Aiptu Labora Sitorus. Upaya polisi mengungkap rekening gendut bintara itu, terkesan mempunyai tujuan tertentu.  

"Pengungkapan dugaan kasus rekening gendut bintara itu memang patut diapresiasi. Namun, pengungkapkan itu jangan sampai menimbulkan diskriminasi. Soalnya, ada jenderal polisi yang diduga terkait rekening gendut, belum diproses," ujarnya.  

Menurutnya, adanya kasus rekening gendut yang menghebohkan tersebut, merupakan bagian dari indikasi kegagalan pimpinan Polri.

Pimpinan Polri tidak mampu mendeteksi, apalagi mencegah segala bentuk kejahatan yang memanfaatkan institusi itu.  

"Ada indikasi dari penanganan kasus ini untuk mengalihkan perhatian masyarakat. Namun, masyarakat sudah bijak dalam menilai penangananan kasus itu. Masyarakat masih menaruh rasa skeptis terhadap Polri. Ini tantangan buat institusi itu," sebutnya.  

Sikap apatis masyarakat terhadap Polri memang sangat beralasan. Soalnya, tidak sedikit dari petinggi institusi seragam cokelat itu yang terkait dalam berbagai kasus hukum. Selain kasus rekening gendut, juga ada kasus simulator dan kasus lainnya.

Rekening Gendut Jenderal

Sebelum kasus Labora Sitorus mencuat,  PPATK   menemukan laporan transaksi mencurigakan di rekening sejumlah perwira polisi.

1. Inspektur Jenderal Mathius Salempang, Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Timur Kekayaan: Rp 8.553.417.116 dan US$ 59.842 (per 22 Mei 2009)  

Tuduhan: Memiliki rekening Rp 2.088.000.000 dengan sumber dana tak jelas. Pada 29 Juli 2005, rekening itu ditutup dan Mathius memindahkan dana Rp 2 miliar ke rekening lain atas nama seseorang yang tidak diketahui hubungannya. Dua hari kemudian dana ditarik dan disetor ke deposito Mathius.

"Saya baru tahu dari Anda,"  kata Mathius Salempang, 24 Juni 2010.    

2. Inspektur Jenderal Sylvanus Yulian Wenas, Kepala Korps Brigade Mobil Polri Kekayaan: Rp 6.535.536.503 (per 25 Agustus 2005)  

Tuduhan: Dari rekeningnya mengalir uang Rp 10.007.939.259 kepada orang yang mengaku sebagai Direktur PT Hinroyal Golden Wing. Terdiri atas Rp 3 miliar dan US$ 100 ribu pada 27 Juli 2005, US$ 670.031 pada 9 Agustus 2005.  

"Dana itu bukan milik saya," kata  Sylvanus Yulian Wenas, 24 Juni 2010.    

3. Inspektur Jenderal Budi Gunawan, Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Kepolisian Kekayaan: Rp 4.684.153.542 (per 19 Agustus 2008)  

Tuduhan: Melakukan transaksi dalam jumlah besar, tak sesuai dengan profilnya. Bersama anaknya, Budi disebutkan telah membuka rekening dan menyetor masing-masing Rp 29 miliar dan Rp 25 miliar.  

"Berita itu sama sekali tidak benar,"  kata Budi Gunawan, 25 Juni 2010.    

4. Inspektur Jenderal Badrodin Haiti, Kepala Divisi Pembinaan Hukum Kepolisian Kekayaan: Rp 2.090.126.258 dan US$ 4.000 (per 24 Maret 2008)  

Tuduhan: Membeli polis asuransi pada PT Prudential Life Assurance Rp 1,1 miliar. Asal dana dari pihak ketiga. Menarik dana Rp 700 juta dan menerima dana rutin setiap bulan.  

"Itu sepenuhnya kewenangan Kepala Bareskrim,"  kata Badrodin Haiti, 24 Juni 2010.    

5. Komisaris Jenderal Susno Duadji, mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Kekayaan: Rp 1.587.812.155 (per 2008)  

Tuduhan: Menerima kiriman dana dari seorang pengacara sekitar Rp 2,62 miliar dan kiriman dana dari seorang pengusaha. Total dana yang ditransfer ke rekeningnya Rp 3,97 miliar.  

"Transaksi mencurigakan itu tidak pernah kami bahas, " kata M. Assegaf, pengacara Susno, 24 Juni 2010.    

6. Inspektur Jenderal Bambang Suparno, Staf pengajar di Sekolah Staf Perwira Tinggi Polri Kekayaan: belum ada laporan  

Tuduhan: Membeli polis asuransi dengan jumlah premi Rp 250 juta pada Mei 2006. Ada dana masuk senilai total Rp 11,4 miliar sepanjang Januari 2006 hingga Agustus 2007. Ia menarik dana Rp 3 miliar pada November 2006.  

"Tidak ada masalah dengan transaksi itu. Itu terjadi saat saya masih di Aceh," kata Bambang Suparno, 24 Juni 2010.    

[Sumber: Majalah Tempo, Sumber Tempo, Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara/155/L-8]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!