SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 29 Maret 2017
BS logo

Revolusi Mental Melalui Olahraga
Rabu, 28 Oktober 2015 | 20:43

Ilustrasi olahraga Volly. [Google] Ilustrasi olahraga Volly. [Google]

 Semangat Sumpah Pemuda tak akan lekang oleh zaman. Seruan nasionalisme dan keinginan bersatu yang begitu kuat 87 tahun lalu itu, bakal langgeng mengingat Bumi Pertiwi memiliki keanekaragaman sekaligus menyimpan potensi perpecahan. Tantangan bangsa terkini bukan hanya disintegrasi melainkan juga bobroknya mentalitas bangsa. Istilah korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang populer di era reformasi, telah nyata menggerogoti bangsa.

Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla menyuarakan revolusi mental. Optimisme memperbaiki mental bangsa menggelora. Namun, harus diakui tak sedikit yang pesimistis, yakni mereka yang punya pandangan bahwa pemberantasan KKN hanya bisa dilakukan dengan memotong satu atau bahkan dua generasi.

 Pesimisme membuat kita tidak bergerak. Momentum seperti peringatan Sumpah Pemuda seperti ini sebaiknya kita gunakan untuk mengupayakan perbaikan, revolusi mental. Bila tak bisa berharap pada generasi saat ini, yang sudah terpolusi perilaku korup, maka harapan bangsa ini terletak pada generasi penerus.

Mental baja generasi muda membela negara harus dipersiapkan untuk mengikis sektarianisme, ekstrimisme, maupun KKN. Olahraga adalah salah satu bidang yang dapat menjadi mesin utama pembangunan mentalitas generasi muda. Membangun generasi muda melalui bidang olahraga bukanlah semata bicara kebugaran fisik dan capaian prestasi melainkan juga mental tangguh bela negara.

Olahraga prestasi mengajarkan tentang kedisiplinan hidup, sportivitas, taat aturan, pantang menyerah, berjiwa kompetitif, bahkan semangat bekerja sama. Olahraga pula yang mampu menggelorakan nasionalisme masif.

Kita bisa melihat betapa seluruh rakyat Indonesia berharap tim nasional sepakbola memenangi ajang kompetisi melawan negara-negara lain. Demikian juga pada cabang olah raga populer lainnya seperti bulutangkis atau tinju.

Angkatan yang kini berusia 40 tahun ke atas merindukan gelora kebanggaan sebuah bangsa seperti saat seorang Elyas Pical menganvaskan pemegang sabuk juara tinju kelas super terbang, Yu Do Chun, asal Korea. Pemuda Saparua itu seolah-olah menjadi wakil bangsa ini mengalahkan Korea. Itulah mengapa prestasi olahraga disebut sebagai representasi kebesaran suatu bangsa.

Sayang, saat ini prestasi Indonesia melempem di ajang multievent besar. Jangankan di Olimpiade, di ajang regional, Indonesia miskin prestasi. Kontingen Merah Putih hanya mampu menempati peringkat ke-17 di Asian Games 2014, Incheon, Korea Selatan. Pada perhelatan sebelumnya pada 2010, Indonesia menempati peringkat ke-15. Keterpurukan juga terjadi pada SEAGames 2105, di Singapura. Indonesia hanya menempati peringkat kelima dari 11 negara peserta. Kita berada di bawah Thailand, Singapura, Vietnam, dan Malaysia.

Sebagai negara besar di tingkat regional, tak sepatutnya Indonesia kalah bersaing. Dengan jumlah penduduk terbanyak dan tergolong negara berpenghasilan menengah, seharusnya Indonesia menjadi juara umum SEA Games atau minimal peringkat dua di bawah tuan rumah. Di sinilah tugas berat Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Dari nomenklaturnya, sudah tergambar jelas bahwa kementerian ini tidak hanya mengurus soal prestasi melainkan juga mengurus sebuah generasi, yakni pemuda. Mempersiapkan para pemuda terutama dari bidang olah raga adalah tantangan maha berat.

Sejumlah catatan perlu menjadi perhatian para pengampu pembangunan pemuda dan olahraga. Pertama, revolusi mental harus sudah terjadi pada organisasi kelembagaan yang menangani keolahragaan. Ambil contoh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kempora), KONI, KOI, maupun organisasi tiap cabang seperti PSSI. Pastikan bahwa para pengurus benar-benar fokus merumuskan program pembinaan olahraga nasional, bukan mencari keuntungan pribadi maupun kelompok.

Kedua, pembinaan atlet sejak dini dan berkesinambungan serta pembangunan fasilitas olahraga harus menjadi prioritas. Pembinaan usia dini meliputi pembangunan fisik dan mental. Fisik benar-benar dipersiapkan melalui pemberian nutrisi bergizi tinggi. Paralel dengan pembangunan fisik, mental bela negara, disiplin, sportivitas, digembleng.

Ketiga, pemerintah wajib memberikan atmosfir positif bahwa olahraga dapat menjadi penopang masa depan. Saat ini, sebagian besar cabang olahraga belum mampu memberi nafkah yang cukup bagi atletnya. Sebagian besar atlet di negeri ini hidup merana pada masa tua.

Terpuruknya prestasi Indonesia di ajang regional maupun internasional selayaknya menjadi cambuk bagi pemerintah, organisasi keolahragaan, swasta, dan masyarakat, untuk kembali bahu-membahu membangun dunia olahraga yang pada akhirnya juga membangun mentalitas generasi muda. ***




Kirim Komentar Anda


Pasang iklan disini via B1 Ads
Data tidak tersedia.
Data tidak tersedia.