SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 2 Oktober 2014
BS logo

Tindak Tegas Siswa Brutal
Kamis, 22 September 2011 | 12:03

Penganiayaan dan perampasan kamera wartawan yang  berujung pada bentrokan antara pelajar SMU 6 Jakarta dengan sejumlah wartawan, merupakan babak baru fenomena kekerasan pelajar di Jakarta.

Tawuran antarpelajar yang selama ini terjadi sudah cukup memprihatinkan. Para pelajar berperang. Tak jarang hingga nyawa melayang. Kini, sekelompok pelajar berani menyerang pihak yang seharusnya tidak berseteru dengan mereka. Kejadian di depan SMU 6 Jakarta Selatan ini harus disikapi sehingga tidak menjadi preseden buruk di kemudian hari. Jangan biarkan para tunas bangsa itu semakin brutal dengan mengatasnamakan solidaritas.

Bukan tidak mungkin, suatu saat nanti sekelompok anak berseragam menyerang kelompok lain yang mereka anggap menghambat atau mengusik. Sekarang, pelajar menyerang wartawan. Besok siapa yang akan dilawan? Kita sama sekali tidak berharap para generasi muda harapan bangsa itu akan melawan guru atau aparat keamanan.

Pada kasus ini hukum yang berlaku harus ditegakkan. Para pelaku harus ditindak tegas sesuai pelanggaran, dari mengganggu ketertiban umum hingga tindak kriminal penganiayaan dan seterusnya. Tak perlu ada alasan permisif bahwa oknum pelaku masih pelajar.

Pihak sekolah yang bertikai harus tegas bila tak mau menanggung malu. Tawuran yang terjadi jelas merusak citra sekolah dan pendidikan. Nama institusi tercoreng, pengelolanya dianggap impoten. Artinya, mereka dianggap tak mampu mengontrol anak didik.  Karena itu, tak berlebihan bila tindakan tegas berupa pemecetan bagi pelaku tawuran menjadi pilihan.

Proses pemecatan para pelaku tawuran hingga hukuman kurungan bukan saja menjadi terapi kejut. Langkah tegas tersebut dapat memutus atau upaya memisahkan para biang kerok tawuran dari pelajar lainnya. Tindakan tegas ini harus dibarengi dengan pendampingan dan bimbingan sehingga masa depan anak belasan tahun itu tak terpatahkan di tengah jalan.

Dari sisi hukum, aparat kepolisian pun harus mengusut tuntas karena berkepentingan terhadap terjaganya keamanan dan ketertiban umum. Tugas polisi tak hanya membubarkan tawuran pada saat kejadian. Polisi bahu membahu dengan para guru harus tahu akar persoalan serta memastikan ada tidaknya provokator. Dengan begitu, ada jaminan bahwa tawuran tak akan terulang. Mencari sumber persoalan menjadi penting sebab bukan tidak mungkin tawuran itu memang ”dipelihara”. Mencari latar belakang tawuran bukanlah hal sulit untuk polisi yang sudah berpengalaman menghadapi berbagai bentuk unjuk rasa di Ibukota. Apalagi bila polisi melibatkan murid dan guru.

Langkah jangka panjang adalah mencari solusi untuk mengakhiri tindakan brutal pelajar. Masyarakat bertanggung jawab terhadap fenomena kekerasan ini. Kita prihatin karena tawuran yang melibatkan para pelajar itu adalah kejadian turun temurun. Seolah para guru, orangtua siswa, dan masyarakat  tidak berdaya mencegah.

Tawuran yang melibatkan peserta didik adalah potret bagaimana institusi pendidikan gagal menjalankan fungsinya. Segerombolan remaja berpredikat pelajar itu seperti buta terhadap fakta bahwa tawuran tak bermanfaat. Tak ada lagi rasa malu meskipun tawuran sering diartikan sebagai sebuah ketidakjantanan. Para pelakunya adalah mereka yang gentar berkelahi satu lawan satu dan  hanya punya nyali ketika berkelompok. Energi muda berbalut solidaritas sempit terbuang percuma.

Ini semua bukan salah mereka semata. Sekolah mendidik generasi penerus yang mengedepankan budi pekerti olah pikir. Bukan mendidik anak untuk menjadi begundal. Tawuran sebagai bentuk pendidikan gagal. Sebab fungsi pendidikan seperti yang diatur dalam UU adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.

Pada muaranya pendidikan bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Begitu mulia tujuan pendidikan bila disandingkan dengan kenyataan. Karena itu tawuran pelajar harus menjadi keresahan bersama, terutama bagi para pendidik di mana para peserta didiknya terlibat. Keresahan itu seharusnya memacu upaya pihak sekolah menegakkan disiplin. Tawuran adalah indikator adanya sesuatu yang salah dalam penerapan disiplin baik di dalam proses belajar mengajar di lingkungan sekolah maupun keluarga.

Energi siswa yang begitu besar harus disalurkan pada kegiatan positif antara lain kegiatan ekstra kurikuler. Lebih jauh lagi, pihak sekolah  dan dinas pendidikan mengoreksi apakah sistem belajar mengajar sudah sesuai bahwa praktik pendidikan tidak semata berorientasi pada aspek kognitif atau intelektual, melainkan secara terpadu menyangkut juga dimensi, afektif (aspek perasaan dan emosi) dan psikomotor (aspek keterampilan motorik).




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!