Jika Menang Pemilu, Netanyahu Janji Caplok Lembah Yordania


...

Gambar ini diambil pada 16 Februari 2015 di dekat kota Abu Dis, Tepi Barat, yang menunjukkan pasukan keamanan Israel membongkar kamp darurat yang didirikan oleh demonstran Palestina sebagai bentuk protes rencana Israel untuk membangun permukiman ilegal di koridor E1 Yerusalem timur.

Beritasatu.com - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan niatnya untuk menganeksasi Lembah Yordania, wilayah yang sangat luas di Tepi Barat, jika dia memenangi pemilihan umum pekan depan.

Pernyataan yang dia sampaikan Selasa (10/9/2019) itu segera memicu reaksi keras dari Presiden Palestina Mahmoud Abbas. Dalam pernyataannya, Abbas mengatakan "semua perjanjian yang telah ditandatangani bersama Israel dan semua kewajiban yang tercantum akan berakhir" jika Netanyahu mewujudkan ambisinya itu.

Israel menduduki Tepi Barat setelah perang 1967, sementara Palestina berjuang menjadikan wilayah itu sebagai bagian dari negaranya nanti. Pada 1990an, Palestina dan Israel menandatangani perjanjian yang juga mencakup kerja sama keamanan di wilayah tersebut.

Dalam pidato yang disiarkan langsung sejumlah stasiun televisi Israel, Netanyahu mengatakan wilayah tersebut adalah "perbatasan timur Israel".

“Hari ini, saya mengumumkan tekad saya setelah terbentuknya pemerintahan baru nanti, untuk mewujudkan kedaulatan Israel di Lembah Yordania dan wilayah utara Laut Mati," kata Netanyahu.

Tindakan itu bisa dilakukan “segera setelah pemilihan, kalau saya menerima mandat yang jelas dari Anda, warga negara Israel,” ujarnya.

Para menteri luar negeri Liga Arab mengecam rencana Netanyahu tersebut karena dinilai menghilangkan peluang untuk kemajuan perdamaian Israel-Palestina.

Lembah Yordania dan wilayah utara Laut Mati dihuni sekitar 65.000 warga Palestina dan 11.000 warga Israel, menurut kelompok hak asasi manusia Israel, B’Tselem. Kota besar Palestina di sana adalah Jericho.

Netanyahu juga mengutarakan rencana untuk menganeksasi semua wilayah pendudukan Israel di Tepi Barat. Namun, rencana itu butuh waktu lebih lama dan "koordinasi maksimal" dengan Amerika Serikat, sekutu terdekat Israel.

"Karena rasa hormat kepada Presiden (Donald) Trump dan kesetiaan yang tinggi pada persahabatan kita, saya akan menunggu mewujudkan kedaulatan itu sampai diluncurkannya rencana politik presiden," kata Netanyahu, merujuk pada cetak biru Washington untuk perjanjian damai Israel-Palestina yang belum juga dirilis.

Cetak biru dari AS itu menurut Netanyahu akan segera disampaikan setelah Israel menggelar pemilu pada 17 September nanti.

Netanyahu, pemimpin partai sayap kanan Likud, sudah berkuasa selama satu dekade terakhir tetapi gagal membentuk koalisi pemerintahan.



Sumber : Reuters