Miranda Berharap Semua Dapat Segera Diproses


...

Mantan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Miranda S. Goeltom tiba di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta Selatan.FOTO: ANTARA

"Agar terdapat kejelasan hukum. Agar kita semua juga tidak bertanya-tanya lagi."

Miranda  Swaray Goeltom, tersangka kasus dugaan suap pemilihan dirinya sebagai  Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia tahun 2004 lalu berharap semua hal yang menyangkut perkaranya  bisa segera diproses.

"Semuanya semoga dapat segera diproses," kata Miranda sesaat sebelum ditahan, Jumat (1/6).

Miranda  tidak merinci yang dimaksud dengan memproses semuanya. Apakah itu  terkait pihak lain yang terlibat dalam perkaranya atau merujuk ke  perkaranya.

Selain itu, Miranda juga berharap penahanan dirinya bisa memberikan kejelasan hukum. "Agar terdapat kejelasan hukum. Agar kita semua juga tidak bertanya-tanya lagi," kata Miranda.

Miranda percaya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) adalah  institusi yang profesional, sehingga kasus ini akan  diproses segera. "Sehingga saya nggak perlu  ditahan berlama-lama.  Dan saya segera bisa memperoleh kepastian hukum.  Kita doakan bersama agar semuanya bisa berjalan cepat dan pasti," kata  Miranda.

Latar Belakang
Hari ini, KPK secara resmi menahan Miranda.

Miranda ditetapkan menjadi tersangka oleh KPK pada 26 Januari lalu.Miranda  disangkakan melanggar Pasal 5 Ayat 1 huruf b atau Pasal 13  Undang-Undang No 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo  Pasal 55 ayat 1 kesatu KUHP jo pasal 56.

Miranda diduga membantu atau turut serta terkait  perbuatan Nunun Nurbaeti melakukan tindak pidana korupsi berupa berikan  travel cheque ke anggota DPRdalam pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia tahun 2004.

Dalam sidang Nunun, terungkap bahwa sebelum  pelaksaan pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Miranda  menemui Nunun unutk meminta dukungan serta dikenalkan kepada anggota  Komisi IX DPR RI.

Nunun menyetujui permintaan Miranda dengan mengatakan" Oke deh, nanti coba saya omongkan ke orang-orang yang saya kenal".

Nunun  kemudian memfasilitas pertemuan antara Miranda, Endin AJ Soefihara,  Hamka Yandhu dan Paskah Suzeta di rumahnya di Cipete Jakarta Selatan.

Usai pertemuan selesai, terdakwa mendengar ada yang menyampaikan "Ini bukan proyek thank you ya".

Miranda juga kemudian melakukan pertemuan khusus di Hotal Dharmawangsa dengan Komisi IX DPR dari Fraksi PDIP.

Sementara dengan Fraksi TNI, Miranda menggelar pertemuan di kantornya di Gedung Bank Niaga.

Sehari sebelum pelaksanaan Uji Kepatutan dan Kelayakan, Nunun melakukan pertemuan dengan Hamka Yandhu di kantornya.

Di situ, mereka membicarakan soal pemberian cek  perjalanan Bank International Indonesia (BII) sebagai tanda terima kasih kepada anggota Komisi IX.

Nunun kemudian  memanggil Ahmad Hakim Safari alias Ari Malangjudo, dan menjelaskan soal  penyampaian tanda terima kasih kepada anggota dewan.Hamka mengatakan kepada Ari bahwa pemberian cek tersebut sudah diatur berdasarkan warna paper bag.

"Nanti ada orang yang ambil dan kamu dikabari lagi," kata Nunun.

Pada hari pelaksanaan uji kepatutan dan kelayakan, Ari pun membagi-bagikan cek tersebut ke beberapa anggota DPR.

Dudhi dari Fraksi PDIP menjadi orang pertama yang mengambil kantong belanja berwarna merah di restoran Bebek Bali.

Endin dari Fraksi PPP mendapatkan kantong berwarna hijau di sebuah cafe di Hotel Atlet Century Park.Hamka mewakili Fraksi Golkar kemudian mengambil kantong berwarna kuning di kantor Nunun.

Demikian juga dengan Udju dari Fraksi TNI/Polri yang  datang bersama empat orang lainnya menerima kantong berwarna putih  berisi amplop.

Berdasarkan pemberian itu, Fraksi PDIP menerima Rp9,8 miliar, Fraksi TNI Rp2 miliar, Fraksi Golkar  Rp7,8 miliar, dan Fraksi PPP Rp1,250 miliar.

Setelah proses pemberian cek selesai, Nunun  memerintah Sumarni, sekretaris pribadinya untuk mencairkan cek sebanyak 20 lembar senilai Rp1 miliar.