Aman, Kandungan Gula di Susu Kental Manis


...

Ilustrasi susu kental manis [Istimewa]

[JAKARTA] Isu susu kental manis yang menghebohkan media massa sudah ditanggapi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang meluruskan bahwa susu kental manis (SKM) adalah produk susu. Bahkan kadar gula dalam SKM juga dipastikan aman.

Lewat seminar sehari berjudul “Literasi Gizi : Belajar dari Polemik Kasus Susu Kental Manis”, di Jakarta, Jumat (10/8), Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) menjawab berbagai informasi yang simpang siur tentang SKM. Kehebohan mengenai SKM terutama dalam setahun terakhir menarik perhatian dari para akademisi dan peneliti gizi dari berbagai perguruan tinggi.

Guru Besar IPB Prof. Dr. Ir. Ahmad Sulaeman, MS menyatakan bahwa susu kental manis terbuat dari susu segar, kemudian ada kandungan lain seperti susu skim, susu skim powder, gula, lalu ada susu bubuk whey, buttermilk powder, serta palm oil.

“Susu kental manis adalah produk susu berbentuk cairan kental yang diperoleh dengan menghilangkan sebagian air dari campuran susu dan gula hingga mencapai tingkat kepekatan tertentu. Atau, merupakan hasil rekonstitusi susu bubuk dengan penambahan gula, dengan atau tanpa penambahan bahan lain. Gula yang ditambahkan digunakan untuk mencegah kerusakan produk. Produk susu kental manis lantas dipasteurisasi dan dikemas secara kedap (hermetis),” papar  Ahmad.

Kandungan lemak dan gula dalam susu kental manis sudah diatur dalam Perka BPOM 21/2016 tentang Kategori Pangan dan Standar Nasional Indonesia Nomor 2971: 2011 tentang susu kental manis. Dalam aturan tersebut disebutkan kombinasi gula dan lemak pada produk ini adalah 51-56% dengan kandungan gula 43-48%.

Anggota Dewan Pengurus Pusat Persatuan Ahli Gizi (PERSAGI) Dr. Marudut Sitompul MPS menjelaskan SKM memiliki dua karakteristik dasar, yaitu memiliki kadar lemak susu tidak kurang dari 8% serta kadar protein tidak kurang dari 6,5 % (plain).

Tidak Resmi

Namun, kata Marudut, sejumlah data tidak resmi yang beredar menyebutkan bahwa kandungan gula dan lemak di susu kental manis lebih dari 70% yakni kandungan gulanya melampaui 60%. Data ini memunculkan persepsi yang salah mengenai susu kental manis, sehingga berpotensi menimbulkan polemik.

Dr. Marudut menambahkan susu kental manis adalah minuman bergizi, tidak bisa disamakan dengan minuman manis atau air tajin yang sering diberikan ke anak. Gula dalam susu kental manis bukanlah sesuatu yang harus ditakuti.

Dikatakan, tambahan gula atau added sugar dalam susu kental manis bila disajikan sesuai takaran atau aturan dari BPOM, terdapat 14 gram gula dalam satu gelas sajian. Selain itu, hingga kini tidak ada data yang menyebutkan bahwa susu kental manis dapat menimbulkan diabetes atau pun obesitas.

Marudut menyampaikan bahwa bukti-bukti ilmiah yang ada, salah satunya seperti yang dikemukakan oleh WHO, adalah bahwa kegemukan dan obesitas ternyata terutama lebih disebabkan oleh kelebihan total asupan energi dan kurangnya aktivitas fisik.

Menyikapi polemik terkait susu kental manis, semua pakar gizi ini sepakat bahwa baik pemerintah dan masyarakat harus terus meningkatkan upaya peningkatan literasi gizi serta terus melaksanakan upaya menyusun kebijakan berbasis evidens.

Selain menyampaikan fakta bahwa susu kental manis adalah susu, seminar ini membuka kesadaran perlunya komunikasi, informasi, edukasi, dan advokasi (KIEA) gizi agar kehebohan yang tidak perlu mengenai susu kental manis ini tidak berujung pada pengambilan keputusan dan pilihan keliru baik oleh masyarakat maupun oleh pemerintah.

Hasil-hasil penelitian mengenai literasi gizi menunjukkan bahwa literasi gizi masyarakat Indonesia masih rendah. Publik juga diharapkan tidak mudah terpancing oleh infomasi yang simpang siur dan belum terbukti kebenarannya. Sementara media diharapkan bisa menjadi jembatan untuk penyampaian informasi yang berdasarkan pada bukti ilmiah dari narasumber terpercaya. [U-5]



Sumber : suarapembaruan