Mengacu Survei SMRC, Wakil Ketua TKN: Insyallaah Pak Jokowi Menang


...

[JAKARTA] Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin (Jokowi-Ma'ruf), Abdul Kadir Karding semakin optimistis Jokowi-Ma'ruf memenangkan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019. Hal tersebut mengacu tren survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).

“Jika ada tren positif, apalagi di bulan terakhir, biasanya akan memenangkan kontestasi Pilpres sama halnya Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah). Survei SMRC ini jadi pemacu semangat bagi TKN. Tanpa mendahului kehendak Tuhan, maka insyaallah Pak Jokowi akan menang,” kata Karding di Kantor SMRC, Jakarta, Minggu (17/3).

Seperti diberitakan, tingkat elektabilitas pasangan Jokowi-Ma'ruf berdasarkan survei SMRC sebesar 57,6%, sedangkan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (Prabowo-Sandi) dipilih 31,8%, dan 10,6% menyatakan tidak tahu atau rahasia. Survei dilaksanakan pada 24 Februari-5 Maret 2019 di 34 provinsi.

Jumlah responsen 2.820, tapi yang mau menjawab hanya 2.479 orang atau 88%. Dengan metode sampel simple random sampling, angka margin of error plus minus 2% pada tingkat kepercayaan 95%. “Sejujurnya belum sesuai target TKN. Kami punya target itu di atas 60%,” ungkap Karding.

Menurut Karding, pihaknya akan mencoba meraih suara dari pemilih yang belum menentukan pilihan. “Target kami ke depan harus di atas 63 atau 65%. Kami akan coba rebut suara pemilih yang belum tentukan pilihan sekitar 6 atau 7% dalam waktu 30 hari terakhir. Ini target ideal kami di Pilpres setelah melihat survei SMRC,” ujar Karding.

Karding menyatakan, temuan survei SMRC lainnya mengonfirmasi kerja-kerja keras dari Jokowi dan jajaran kabinetnya. Selain itu, survei pun menunjukkan setiap kebijakan yang diambil pemerintah selama ini sudah tepat, dan benar. “Jadi hasil survei ini sebenarnya hanya konfirmasi pencapaian yang sudah dijalankankan Pak Jokowi melalui Kabinet Kerja,” ujar Karding.

Menurut Karding, pihaknya mengalami kewalahan dalam menghadapi isu politik identitas. Misalnya terkait Jokowi yang dituding antek Partai Komunis Indonesia, anti Islam, termasuk kriminalisasi ulama. “Jujur saja, kami harus keluarkan sebagian besar energi untuk menjawab isu-isu politik identitas. Isu ini sebenarnya lampu kuning menuju merah bagi bangsa Indonesia,” ucap Karding.

Dalam Pemilu di Amerika Serikat (AS) maupun Brasil, Karding mengungkap, isu fitnah, dan kabar bohong merupakan hal lumrah. Namun bagi Indonesia, lanjut Karding, isu semacam itu tak relevan. “Bangsa Indonesia punya filosofi persaudaraan, dan gotong royong. Isu-isu sesat harus kita antisipasi. Adanya 6-10% warga yang percaya fakenews adalah hal berbahaya,” ungkap Karding. [C-6]

 



Sumber : suarapembaruan