Pengamat: Debat Capres Untungkan Jokowi


...

Prabowo Subianto dan Joko Widodo tampil dalam debat ketiga. [Google]

[DEPOK] Debat calon presiden antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto dengan tema Politik Internasional dan Keamanan Nasional lebih menolong Joko Widodo dibanding Prabowo Subianto.

"Cukup mengagetkan saat pada debat, Jokowi terdengar fasih mengartikulasikan kebijakan hubungan luar negeri dan pertahanan dengan mengangkat isu-isu kontemporer seperti cyber war, penggunaan pesawat tanpa awak atau drone untuk kepentingan pertahanan dan isu pertahanan hybrid," kata Dosen Administrasi Publik, FISIP Universitas Indonesia Vishnu Juwono menanggapi debat capres, Senin (23/6).

Sebelum berlangsungnya debat yang dipandu oleh Guru Besar Hukum Internasional UI Hikmahanto Juwana ini rakyat Indonesia sangat jarang mendengar pernyataan secara resmi atau buah pikiran dari Jokowi mengenai isu-isu hubungan internasional dan masalah pertahanan.

Vishnu mengatakan selain itu pada pernyataan awal untuk mendukung kedaulatan Palestina, Jokowi berhasil "mencuri" dari Prabowo momentum isu hubungan internasional signifikan untuk meraih simpati dari para pemilih muslim di Indonesia.

Selain Jokowi sendiri, apresiasi perlu juga diberikan kepada tim ahli hubungan internasional dan pertahanan dibelakang tim Jokowi yang berhasil meyakinkan Jokowi untuk mengangkat isu-isu kontemporer dan strategis tersebut dalam acara debat.

Ia mengatakan walaupun dalam acara satu debat tidak bisa menggambarkan keahlian seorang kandidat Presiden, setidaknya performa Jokowi yang mengejutkan tersebut dapat menjawab keraguan terutama dari kalangan undecided voters mengenai pemahaman Jokowi untuk isu-isu hubungan internasional dan pertahanan.

Sedangkan kandidat calon Presiden Prabowo Subianto mencoba memposisikan dirinya sebagai penerus kebijakan luar negeri "Zero enemy dan Millions friends" Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Terutama dengan calon Wakil Presiden Hatta Rajasa yang juga Mantan Menko Perekonomian di era periode ke dua Presiden SBY, Prabowo Subianto ingin mengulang kebijakan Presiden SBY yang dianggapnya berhasil membawa Indonesia kembali pada posisi yang cukup dihormati pada arena internasional terutama dengan masuknya Indonesia dalam kelompok G 20 dan berbagai forum internasional lainnya.

Selain itu yang menarik adalah Prabowo menekankan berkali-kali mengenai bocornya kekayaan negara sebagai ancaman ketahanan dan pentingnya kesejahteraan ekonomi rakyat terkait dengan ketahanan nasional.

Vishnu menjelaskan kedua kandidat Presiden menekankan pentingnya memperjuangkan kepentingan ekonomi Indonesia dalam konteks pergaulan hubungan internasional Indonesia.

Namun kedua kandidat secara detil kurang mengelaborasi bagaimana diplomasi ekonomi dapat ditingkatkan lebih maksimal saat mereka nantinya memimpin Indonesia.

Seperti bagaimana mensinkronasikan berbagai institusi kementerian serta lembaga negara selain Kementerian Luar Negeri, agar saat memperjuangkan kepentingan ekonomi di forum internasional menjadi lebih lebih efektif seperti Kementerian Perdagangan di forum World Trade Organisaton (WTO), Kementerian Keuangan di berbagai forum lembaga keuangan internasional seperti Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia serta pertemuan tingkat menteri keuangan forum G 20.

"Yang terpenting lagi bagaimana memperjuangkan produk ekspor Indonesia yang tidak hanya terus mengandalkan hasil kekayaan alam Indonesia akan tetapi produk yang mempunyai nilai tambah lebih tinggi seperti di bidang jasa pariwisata serta industri kreatif," katanya.

Selain itu juga kedua kandidat tidak secara komprehensif membahas strategi diplomasi ekonomi untuk meningkatkan investasi luar negeri ke Indonesia dalam konteks persaingan dengan negara-negara berkembang lainnya seperti Vietnam, Thailand, Cina dan India.

Pemilihan presiden 2014 diikuti dua pasang calon presiden yaitu Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla. [Ant/L-8]



Sumber : suarapembaruan