Pengungsi Rohingya Pilih Mati di Bangladesh


...

Warga Rohingya di pengungsi mengalami penderitaan [AP]

[DHAKA] Sejumlah pengungsi Rohingya di Bangladesh menyatakan lebih memilih mati di sana daripada dipulangkan kembali ke Rakhine State, Myanmar. Seorang pengungsi berusia 60 tahun, Dil Mohammad, menemukan dirinya masuk dalam daftar 2.000 pengungsi Rohingya yang akan dikirimkan ke Myanmar, maka dia mengambil botol racun tikus dan meminumnya.

Tapi aksinya itu berhasil dihentikan oleh istrinya dengan mendesaknya memuntahkan racun itu lagi. Istri Mohammad segera melarikan sang suami ke rumah sakit terdekat yang dikelola oleh organisasi kemanusiaan Medecins Sans Frontieres (MSF) atau Dokter Lintas Batas.

Bagi Mohammad, bunuh diri, yang merupakan dosa besar dalam Islam, lebih disukai daripada tewas karena menjadi Muslim di Myanmar.

“Allah akan mengampuni tindakan bunuh diri saya karena Dia tahu penderitaan saya,” ujarnya.

Sekitar 700.000 warga Rohingya, yaitu minoritas Muslim dari Rakhine Utara, telah melarikan diri ke perbatasan Bangladesh sejak Agustus 2017. Peristiwa itu dipicu oleh kekerasan oleh militan Rohingya yang dikenal sebagai Tentara Pembebasan Rohingya Arakan (ARSA) menyerang pos polisi Myanmar sehingga memicu aksi balas dendam dari militer Myanmar yang berdampak kepada warga sipil Rohingya.

Desa-desa Rohingya dilaporkan telah dihancurkan dan pasukan Myanmar diduga melakukan pemerkosaan dan membunuh ribuan warga sipil Rohingya.

Mohammad dan keluarganya yang hidup dalam ketakutan, berjalan selama berhari-hari melewati hutan dalam kondisi hujan lebat, lalu tiba di Bangladesh pada September 2017. “Tidak ada apa-apa saat kami tiba di sini, hanya hutan dan tanah,” katanya.

Keluarga Bangladesh setempat membantu para pengungsi untuk membangun tempat penampungan, serta menyediakan air dan makanan sampai kelompok bantuan dan pasukan keamanan Bangladesh tiba dan mendirikan kamp-kamp sementara. [Religionnews.com/C-5]



Sumber : suarapembaruan