PM Mahathir: Saya Pro-Malaysia, Bukan Anti-Singapura


...

Mahathir Mohamad [AP]

[KUALA LUMPUR] Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad menegaskan dirinya tidak pernah membenci Singapura. Pernyataan itu dilontarkan Mahathir ketika diwawancarai South China Morning Post, baru-baru ini untuk mengomentari sentimen publik di Singapura yang menyalahkannya secara pribadi atas ketegangan hubungan antara kedua negara.

“Saya pro-Malaysia, bukan anti-Singapura,” kata Mahathir seraya menyebut Kota Singa telah mengambil untung ketika datang untuk membeli air dari Negara Bagian Johor.

Hubungan Malaysia-Singapura mengalami krisis sejak Mahathir kembali berkuasa Mei lalu. Berbeda sekali dengan kehangatan yang dirasakan Singapura dari Malaysia selama era mantan perdana menteri Najib Razak. Ketegangan telah menyalakan kembali ingatan akan masa pertama Mahathir sebagai perdana menteri dari 1981 hingga 2003.

Dalam wawancara eksklusif dengan Post, Mahathir membahas satu masalah bilateral yang telah dikeluhkan selama bertahun-tahun - harga air bersih yang dibayar Singapura kepada negaranya.

Mahathir mengecam Singapura yang mengambil untung besar dengan harga 3 sen Malaysia per seribu galon air, ditetapkan pada 1960-an. Mahathir mengklaim harga itu ditetapkan pada 1920-an sebagai bagian dari pakta antara mantan administrator kolonial dan negara bagian Johor di Malaysia bagian selatan yang memasok air.

Singapura membantah hal ini, mengklaim pulau itu menerima air selama era kolonial secara gratis, terlepas dari biaya menyewa bangunan air dan daerah tangkapan air.

Singapura juga mengatakan harga tidak dapat dinegosiasikan ulang karena Malaysia telah kehilangan hak untuk melakukannya lewat perjanjian kontrak selama 25 tahun pada tahun 1987. Tinjauan harga diperdebatkan saat pembicaraan bilateral yang diadakan antara tahun 1998 hingga 2003, tetapi perundingan itu tidak menghasilkan harga baru.

Dalam wawancara Kamis (7/3) dengan Post, Mahathir berpegang pada pandangannya tentang masalah tersebut.

“Saya harus melihat kepentingan Malaysia. Dapatkah Anda menemukan negara yang menjual 1.000 galon air senilai 3 sen, sesuatu, harga yang ditetapkan pada tahun 1926? Apa yang dijual dengan harga 3 sen pada tahun 1926 yang dijual dengan harga 3 sen sekarang ?,” katanya.

Bantah

Mahathir membantah pandangan Singapura bahwa dia melewatkan kesempatan untuk meninjau kembali kesepakatan itu.

“Kami berhak untuk menegosiasikan ulang harga setelah 25 tahun, tetapi yang dikatakan Singapura adalah karena 25 tahun telah berlalu, oleh karena itu Anda kehilangan hak untuk bernegosiasi. Bagaimana itu bisa terjadi? Dikatakan setelah 25 tahun, bukan pada 25 tahun Anda harus bernegosiasi,” serunya.

PM Mahathir pernah berdebat dengan mantan perdana menteri Singapura Goh Chok Tong atas masalah ini pada tahun 2000-an. Dia membuktikan bahwa negara-negara Malaysia lainnya membayar lebih banyak ke Johor untuk pasokan air daripada Singapura.

“Apa yang kami katakan adalah, sangat konyol bahwa negara bagian Johor menjual air ke negara bagian Malaka dengan harga 50 sen per seribu galon tapi malah menjualnya dengan harga 3 sen ke Singapura,” keluhnya.

Mahathir menambahkan Singapura seolah menutup mata soal ketidakadilan harga, dan tetap ingin mengeruk keuntungan dari perjanjian lawas.

“Dan kita semua tahu bahwa Singapura adalah negara maju, Singapura adalah negara yang sangat kaya. Mata uangnya tiga kali lebih tinggi dari mata uang kami, meskipun sebelum sama. Namun Singapura meminta negara yang lebih miskin untuk mensubsidi ekonomi dan pertumbuhan mereka,” kecamnya. [SCMP/U-5]



Sumber : suarapembaruan