Pengamat: Air di Jakarta Sudah Sangat Liar


...

Banjir di Kampung Pulo, Jakarta Timur

"Tata kota tak terkendali. Curah hujan 120-150 mm sudah membuat Jakarta tak berkutik."

Kurangnya resapan air dan tidak optimalnya sistem drainase, dinilai menjadi penyebab utama Jakarta masih kerap tergenang air saat hujan deras turun. Pemerintah dinilai harus kerja keras satu tahun ke depan, demi menyelesaikan masalah air di ibukota yang sudah sangat liar.

"Penyebabnya, pertama, kondisi cuaca di Jakarta sangat sensitif, karena masalah bentang alam. Banyak bangunan menyebabkan kurang resapan air. Lalu, kondisi drainase yang tak bisa diandalkan. Ada beberapa, namun tak optimal. Sekitar 60 sampai 70 persen tak optimal. Kapasitas menjadi turun, otamatis (air) tidak tertampung dan meluap," ujar pakar tata kota, Yayat Supriatna, kepada Beritasatu.com, kemarin.

Yayat menambahkan, selain sistem drainase yang tak optimal, banyak pula sungai dangkal yang tak dikeruk, sehingga menyebabkan sungai tak dapat menampung air. "Sistem tak optimal, banyak sungai tak dikeruk, sehingga sungai juga tak bisa menampung air dan meluap. Akibatnya, air tumpah ke jalan-jalan, jadi macet di dalam tol dan di luar tol," katanya.

Dikatakan Yayat, tata kota Jakarta sudah tak terkendali. Akibatnya, hujan deras selama tiga jam saja, ibukota sudah terendam. "Tata kota tak terkendali. Curah hujan 120-150 mm sudah membuat Jakarta tak berkutik. Hujan tiga jam sudah ada genangan dan banjir," ungkapnya.

Lebih lanjut, Yayat menyampaikan bahwa penyebab drainase tak bekerja optimal adalah karena tak pernah dipelihara.

"Sistem drainase didesain 5 tahunan, namun tak pernah dipelihara. Otomatis muncul masalah tadi. Selama ini, kita selalu menyalahkan alam dan curah hujan tinggi. Padahal, ini bisa menjadi pelajaran kita dari tahun ke tahun," tegasnya.

Yayat juga menilai bahwa (kondisi) air di Jakarta sudah sangat liar. Kemacetan pun kian parah, jika hujan turun dan ada genangan.

"Menurut saya, kondisi sekarang sudah sangat parah. Kondisi sudah menjadi-jadi, apalagi pada saat pulang kantor, lalu lintas padat, hujan, ditambah tidak ada drainase yang optimal. Air di Jakarta sudah sangat liar," keluhnya.

Lantas, apakah Jakarta sudah memiliki kemampuan untuk mengatasinya? Yayat mengatakan bahwa sebenarnya bisa, asalkan pemerintah daerah (Pemprov DKI) mau bekerja keras.

"Pertama, kalau pemerintah sudah punya rencana mengupayakan normalisasi sungai dan saluran, dalam satu tahun ini harus kerja keras. Harus dibuktikan, karena anggaran sudah ada," ujarnya.

"Kedua, mengajak warga Jakarta memahami cuaca. Disosialisasikan soal cuaca, agar bisa menjadwalkan perjalanan. Kalau lalu lintas padat dan turun hujan, (warga) bisa menunda dan jangan memaksakan diri. Ketiga, bisa membangun sistem menabung air. Membangun resapan air, biopori (lubang serapan air) dan menanam pohon. Jadi, menyimpan air dan bisa digunakan saat musim kemarau," tambahnya.




Sumber :