Warga Halong Mardika Minta Aparat BKO 131 TNI-AD Dipulangkan


...

Ilustrasi bentrokan di Ambon [google]

[AMBON] Warga Halong Mardika yang selama ini rumah-rumahnya sering dibakar ketika terjadi bentrok meminta dari pemerintah daerah (pemda) Maluku, Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon dan Panglima Kodam XVI Pattimura agar aparat Badan Kendali Operasi (BKO) 131 dipindahkan dari pengamanan di kawasan Mardika.

“Percuma saja mereka disitu buktinya ketika bentrok mereka membiarkan kelompok masyarakat lain membakar rumah saya dan dua rumah lainnya saat Hari Patimura lalu,” ujar Josi Berhitu (54) kepada SP di lokasi pengungsian gedung DPRD kota Ambon, Rabu (23/5).

Josi menceritakan kronologis dirinya ketika ingin menyelamatkan diri ketika terjadi bentrok kemudian ditolak dan diusir oleh aparat  keamanan dari BKO 131 TNI-AD di pos jaga mereka. Waktu itu sekitar pukul 05.00 pagi WIT saat telah terjadi bentrok dia bersama istrinya keluar dengan pakaian yang ada di badan mereka hendak mnenyelamatkan diri.

Dalam kondisi sakit Josi sempat terjatuh dan dipapah oleh istrinya Upi Berhitu (54). Karena sudah kepayahan mereka hendak berlindung di pos aparat. Namun naas mereka malah diusir oleh aparat yang sedang berjaga disitu, namun Josi tetap saja duduk di pinggir pos menanti bantuan.

Bersamaan dengan itu datanglah seorang pemuda bernama Frangky Hukom mengendarai sebuah motor mengangkat Josi duduk di belakang motornya dan langsung pergi meninggalkan lokasi Mardika. Istrinya sendiri kemudian lari juga menyelamatkan diri.

Senada dengan Josi wargga Mardika lainnya, ibu Rina (63) mengaku sangat kecewa dengan aparat BKO 131 TNI-AD yang membiarkan sekelompok orang masuk menjarah rumah-rumah warga Mardika dan hanya menonton serta membiarkan. “Beta (saya) saksikan langsung dan saya tidak dapat berbuat apa-apa karena mereka dengan menenteng senjata justru menjaga agar warga Mardika tidak boleh masuk ke lokasi rumahnya, sementara mereka membiarkan kelompok warga menjarah. Katong (kami) sudah capek karena ini sudah berulangkali terjadi sejak kerusuhan tahun 1999, 2004, 2011 dan terakhir 2012,” ujarnya.

Dia juga meminta pemkot Ambon untuk menertibkan penduduk liar yang masuk di kota Ambon tanpa memiliki identitas. “Banyak peduduk liar yang masuk dibiarkan saja oleh pemkot tanpa penertiban,” katanya.

Ibu Rina juga mengaku pada tanggal 15 Mei 2012 siang hari, dia hendak masuk di rumahnya namun dilarang aparat. Namun Ibu Rina ngotot karena sudah pengalaman, setiap terjadi konflik, besoknya pasti ada saja jarahan dan pembakaran, padahal ada aparat keamanan. “Apapun yang terjadi beta seng (tidak) akan keluar dari beta rumah kalau dilarang aparat, karena sama saja mereka tidak akan mengamanan rumah warga Mardika, sebaliknya mereka membiarkan kelompok warga membakar rumah dan menjarah. Ketika katong duduk di teras rumah sekitar 20 Meter sementara kelompok warga lain membongkar rumah warga Mardika lain, kami saksikan dengan mata kepala kami sendiri sementara aparat menonton saja dan membiarkan. Ini apa namanya seperti begini,” ujar Ibu Rina kesal.

Warga lainnya E.Nikijuluw (59) mengatakan setelah terjadi insiden 15 Mei 2012 sudah seringkali terjadi bentrok Batu-Merah Mardika di saat Hari Pattimura. Aparat keamanan mengharapkan aparat netral siapapun dia tidak boleh memihak salah satu kelompok masyarakat. Sehingga siapa yang salah tetap salah dan jangan memihak.

“Harapan kami dengan demikian bisa antisipasi keamanan di kawasan Batu Merah-Mardika. Ebagai warga waktu peristwa seperti itu, seakan kita dilerai tapi membiarkan kelompok warga lain menjarah dan membakar,” ujarnya. Ini bukan baru terjadi sekarang saja, sudah terjadi sejak kerusuhan 1999 lalu. Ini berulangkali terjadi seperti begitu. “Kami bangun rumah, dibakar lagi, bangun rumah dibakar lagi, sementara kami terus ada di pengungsian bertahun-tahun. Katong lagi menunggu bantuan tahap ketiga untuk kembali membangun katong rumah padahal mereka bakar lagi,” kata Nikijuluw.

Ketua RT 002/RW02 Mardika Kelurahan Rijali Keamatan Sirimau kota Ambon Empi Tuhumena meminta pemprov Maluku maupun Pemkot Ambon untuk kembali memperhatikan rumah-rumah warga yang kembali dibakar warga lain. Pengungsi Mardika masih menunggu tahap bantuan tahap ketiga pengungsi tapi kelompok warga lain sudah membakar.

Sebagai penanggungjawab warga dirinya menyesali, padahal dalam pembiaraan dengan pemkot Ambon warga Mardika diminta kembali ke Mardika agar bisa mengsukseskan perhelatan nasional Musabqah Tilawatil Quran (MTQ). “Warga saya yang 80 persen beragama Islam dan hanya 20 persen Kristen, dari dulu kami hidup rukun dan kami siap mensukseskan kegatan nasional,” ujarnya. [156]



Sumber : suarapembaruan