Batas Kecepatan Tol Layang Jakarta-Cikampek Diminta ‎Dipertegas


...

Foto udara pembangunan proyek Jalan Tol Layang (Elevated) Jakarta-Cikampek di Tambun, Bekasi, Jawa Barat, Jumat, 8 NOvember 2019.

Bekasi, Beritasatu.com -‎ Tol Layang Jakarta-Cikampek (Elevated) segera beroperasi dalam waktu dekat ini. Di satu sisi, pengoperasian tol layang ini dapat mengurai kepadatan di Tol Jakarta-Cikampek, yang tepat berada di bawah tol layang. Di sisi lain, angka kecelakaan di jalan tol cenderung meningkat. Pengguna jalan tol cenderung melaju dengan kecepatan tinggi.

"Penetapan batas kecepatan dapat dilakukan dalam upaya menjaga keselamatan dan menekan angka kecelakaan pengguna jalan tol," ujar Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, Djoko Setijowarno, Selasa (3/12/2019).

Menurutnya, berdasarkan aturan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 111 Tahun 2015 tentang Tata Cara Penetapan Batas Kecepatan, dapat diterapkan.

"Mobil barang ukuran lebih (over dimension) dan muatan lebih (over load) harus dilarang beroperasi di Tol Layang Jakarta-Cikampek II," ujarnya.

Baca juga: Tol Layang Jakarta-Cikampek Beroperasi 15 Desember 2019

Tol layang ini membentang dari ruas Cikunir hingga Karawang Barat (KM 9+500 sampai dengan KM 47+500). Tol ini merupakan yang pertama di Indonesia dalam satu ruas ada layanan tol (elevated dan at grade).

Selama ini, sudah ada layanan tol layang seperti Tol Cawang-Tanjung Priok (15 kilometer), Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu/Becakayu (21 kilometer) dan Tol Tanjung Priok-Pluit (21 kilometer).

"Pengguna tol Jakarta-Cikampek Layang hanya untuk kendaraan golongan I dan II maka kecepatan kendaraan menjadi krusial. Kendaraan kecil cenderung ngebut, apalagi dengan tidak ada truk," katanya.

Untuk itu, kata dia, perlu ketegasan untuk menindak pengguna dengan kecepatan di atas ketentuan. Diperlukan alat pengukur kecepatan disertai tindakan tegas untuk mengantisipasi kecelakaan di ruas tol layang.

Batas kecepatan paling rendah ditetapkan 60 kilometer per jam dalam kondisi arus bebas dan paling tinggi 100 kilometer per jam untuk jalan bebas hambatan.

Baca juga: Desember, Tol Layang Jakarta-Cikampek Dipastikan Beroperasi

"Jenis kecelakaan yang kerap terjadi di jalan tol adalah tabrak belakang truk barang dan ban pecah. Oleh sebab itu perlunya menerapkan batas kecepatan dan menilang mobil barang ukuran lebih dan muatan lebih," ‎ungkap Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata ini.

Di era digital, kata Djoko, sistem penegakan hukum sudah harus lebih modern pula. "Menerapkan tilang elektronik atau electronic traffic law enforcement (ETLE) di ruas tol ini dapat dilakukan," katanya.

Dia berharap, infrastruktur transportasi semakin nyaman bukan menjadikan ajang meningkatnya kecelakaan. Penegakan hukum tetap dilakukan untuk menekan angka kecelakaan.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk, Desi Arryani, mengatakan masyarakat diminta tak me‎ncemaskan tarif yang akan diberlakukan di Tol Layang Jakarta-Cikampek.

"Masyarakat tidak usah bingung pikirin tarif. Kalau kamu mau jarak jauh naik, kalau jarak dekat lewat bawah. Nggak ada perbedaan, bayarannya tetap," katanya.

Pengoperasian tol layang ini diharapkan mengurangi beban lalu lintas di ruas jalan Tol Jakarta-Cikampek eksisting, dapat mengurangi biaya dari bahan bakar dan serta memperlancar perjalanan pengguna tol.



Sumber : Suara Pembaruan