ck Dr Sardjito Perjuangkan Keilmuan dan Kebangsaan

Dr Sardjito Perjuangkan Keilmuan dan Kebangsaan


...

Presiden Joko Widodo menyerahkan plakat anugerah gelar pahlawan nasional kepada ahli waris Prof Dr M Sardjito di Istana Negara, Jakarta, Jumat 8 November 2019.

Yogyakarta, Beritasatu.com - World Health Organization (WHO) dalam edaran resminya yang diterbitkan pada 1960 memasukkan rektor pertama Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dr M Sardjito dalam daftar panel ahli pada bidang serology and laboratory aspects.

Peran Sardjito di bidang serologi terbukti dengan amanat Pemerintah Indonesia untuk mengambil alih Institut Pasteur yang merupakan bentukan Belanda dan menjadi kepala Palang Merah Indonesia (PMI) Bandung. 

Sardjito lahir dengan nama Mas Sardjito di Desa Purwodadi Kabupaten Magetan, Jawa Timur, 13 Agustus 1891. Rektor pertama UGM itu meninggal di RS Panti Rapih Yogyakarta pada 5 Mei 1970 dan dimakamkan dengan upacara kebesaran militer di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Yogyakarta.

Atas perjuangan dan dedikasi semasa hidupnya dalam bidang keilmuan, Sardjito mendapat anugerah pahlawan nasional dari Pemerintah Indonesia. 

Anggota tim pengusul gelar pahlawan nasional bagi Sardjito, Prof dr Sutaryo menjelaskan gelar pahlawan nasional diberikan lantaran Sardjito merupakan sosok ilmuwan pejuang sekaligus pejuang ilmuwan. Sardjito fokus dan aktif waktu itu di bidang pendidikan, seperti Budi Utomo.

“Tidak hanya berjasa bagi bangsa Indonesia lewat kiprahnya dalam peperangan dengan membantu pengobatan darurat dan pembuatan obat bagi para gerilyawan pada masa penjajahan, berbagai riset serta penelitiannya di bidang kedokteran pun turut andil dalam perkembangan medis di dunia," kata guru besar Fakultas Kedokteran UGM itu di Yogyakarta, Sabtu (9/11/2019)

Sutaryo menjelaskan, selain di bidang keilmuan, Sardjito juga menjadi peletak Pancasila sebagai dasar perguruan tinggi di Indonesia.

Sejak sembilan tahun lalu, UGM telah memperjuangkan Sardjito sebagai pahlawan nasional, dan anugerah tersebut baru didapat tahun ini.

“Dr Sardjito meramu berbagai vaksin untuk masyarakat dan tentara Indonesia. Selain itu, ia menjadi pelopor metode transfusi darah dan penyimpanan darah dalam peti es di Indonesia,” katanya. 

Sardjito tergolong seseorang yang aktif menulis. Tulisannya yang dimuat dalam media massa, buku, dan publikasi ilmiah tidak hanya membahas seputar kesehatan, melainkan juga berbagai topik lainnya, seperti sosial, budaya, hingga pendidikan. Pada periode 1914 sampai 1941, sebanyak 34 tulisan Sardjito dimuat dalam jurnal medis Belanda, Geneeskundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië. Tulisan pertamanya di jurnal itu bahkan ia tulis saat masih menempuh studi di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (Stovia) Batavia (sekarang DKI Jakarta).

Sardjito yang tergabung dalam International Leprosy Association banyak melakukan penyelidikan penyakit lepra di Indonesia pada periode 1932 sampai 1942. Ia sempat meneliti tentang pemberian iodin Chaulmogras aethylicus dalam terapi lepra. Berbagai penelitian Sardjito bahas dalam Geneeskundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië, dari diabetes melitus, tifus, disentri, leptospirosis, lepra, hingga penyakit rhinosclerama yang ditelitinya di Minahasa. Namun, hampir separuh tulisan Sardjito pada jurnal terbitan Belanda itu merupakan kajian tentang persoalan lepra dan leptospirosis.

Tak hanya di bidang kesehatan, Sardjito juga memiliki ketertarikan khusus pada bidang budaya. Sejak 1951 Sardjito dipilih menjadi ketua Delegasi Indonesia untuk UNESCO. Ia pernah melakukan penelitian tentang pahatan di Candi Borobudur. Hasil penelitian tersebut kemudian ia beri judul “The Revival of Sculpture in Indonesia” yang disampaikannya pada Science Congress 1953 di Manila. Filipina. Temuan tersebut turut memopulerkan Candi Borobudur di kancah dunia. Setelah itu, Pemerintah Indonesia pun bertindak cepat mengajukan restorasi Candi Borobudur ke UNESCO pada 1955. Restorasi akhirnya dimulai pada 1973. Puncaknya pada 1991 candi di Magelang itu resmi dinobatkan sebagai warisan dunia.

Sementara itu, Budhi Santoso, salah satu keluarga Sardjito, merasa bahagia dengan anugerah tersebut. Dia bersama keluarga yang lain menyambut bahagia penganugerahan tersebut dan berterima kasih kepada seluruh tim yang telah berusaha secara maksimal memperjuangkan Sardjito sebagai pahlawan nasional.

“Ini anugerah istimewa bagi keluarga. Atas nama keluarga kami mengucapkan terima kasih kepada tim yang telah memperjuangkan pemberian gelar tersebut,” terangnya.

Sardjito juga sempat mendapatkan penghargaan istimewa dari Pemerintah Indonesia atas perannya dalam pembangunan UGM (1951), Bintang Gerilya (1958), Bintang Mahaputra Tingkat III (1960), serta Bintang Keilmuan dari Uni Soviet (1960).



Sumber : Suara Pembaruan