ck IPW Nilai Mutasi 206 Perwira Polri Aneh Tanpa Mengisi Jabatan Kabareskrim

IPW Nilai Mutasi 206 Perwira Polri Aneh Tanpa Mengisi Jabatan Kabareskrim


...

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane

Jakarta, Beritasatu.com - Indonesia Police Watch (IPW) menilai ada yang aneh dalam mutasi 206 perwira Polri, Jumat kemarin. Hal ini karena posisi Kabareskrim yang kosong dan sangat vital justru belum terisi dalam mutasi ini.

“Mutasi di tubuh Polri kali ini sangat aneh. Bagaimana tidak, posisi Kabareskrim yang kosong setelah Idham Azis menjadi Kapolri, kenapa belum diisi, justru yang dimutasi sejumlah posisi yang sesungguhnya belum begitu mendesak untuk direposisi,” ujar Ketua Presidium IPW Neta S Pane kepada SP, Sabtu (9/11/2019) sore.

Menurutnya ada empat fenomena yang patut dicermati dalam perkembangan dinamika di tubuh polri ini. Pertama, adanya tarik menarik yang kuat menyangkut posisi Kabareskrim. Ada indikasi intervensi jalur kekuasaan untuk mendudukkan figur tertentu sebagai Kabareskrim, sementara internal Polri menilai figur tersebut masih sangat junior dan menginginkan tampilnya figur senior yang menjadi Kabareskrim baru.

“Tarik-menarik ini membuat pengisian Kabareskrim yang kosong berjalan alot, tidak secepat penunjukkan Plt Kapolri maupun Kapolri baru, sehingga telegram rahasia mutasi yang keluar Jumat siang itu tidak menampilkan Kabareskrim baru,” ujar Neta.

Kedua, dari mutasi ini terlihat Idham Azis sebagai Kapolri baru mulai menunjukkan kekuatannya dengan menyusun orang-orangnya maupun pendukungnya. Penempatan Niko Alfinta dan M Fadil yang mendapat bintang dua di staf ahli Kapolri makin nyata menunjukkan bintang mereka bakal bersinar terang, sehingga diprediksikan dalam waktu dekat keduanya akan segera menjadi Kapolda Sumut dan Kapolda Sulsel.

Ketiga, mutasi ini menunjukkan juga secara nyata bahwa "kekuatan lama" di Polri begitu cepat digeser Idham, dan figur-figur milik kekuatan lama itu ditempatkan pada posisi-posisi yang kurang strategis dan turun kelas.

Sehingga, adanya isu tiga matahari yang sempat menerpa Polri sepertinya bakal lenyap. Sebab lewat mutasi ini terlihat kekuatan-kekuatan lama itu mulai digeser dan kekuatan baru mulai muncul memperkuat posisi.

“Apakah pergeseran pergeseran ini akan membuat Polri makin terkonsolidasi, publik harus menunggu mutas- mutasi lanjutan. Namun dengan adanya tarik menarik yang kuat menyangkut posisi Kabareskim menunjukkan “matahari-matahari” di Polri makin menunjukkan pengaruhnya. Tidak seperti dalam penunjukkan Plt Kapolri dan Kapolri baru, mereka cenderung landai,” kata Neta.

Fenomena keempat menurut Neta, selama ini polisi yang menjadi ketua KPK adalah jenderal bintang dua (Irjen) purnawirawan dan itu tidak ada masalah. Jika sekarang ketua KPK terpilih Firli dinaikkan pangkatnya menjadi bintang tiga sebelum menduduki kursi ketua KPK berarti ada perubahan strategi di tubuh Polri dalam melihat keberadaan lembaga anti rasuah tersebut.
Perubahan strategi itu bisa jadi untuk memperkuat KPK dengan pimpinan jenderal bintang 3 dan sekaligus memperkuat wibawa Ketua KPK agar tidak mudah dilecehkan atau dianggap remeh oleh pegawai KPK maupun oleh wadah Pegawai KPK.

Dengan naiknya pangkat ketua KPK menjadi Komjen otomatis keberadaan KPK setara dengan BNN maupun BNPT, yang selama ini dipimpin jenderal bintang tiga. “Dampak lainnya, ketua KPK Komjen Firli berpeluang pula untuk menjadi calon kapolri pasca Idham Azis yang akan pensiun pada Januari 2021,” ujar Neta memprediksi.



Sumber : Suara Pembaruan