Raja Keraton Agung Sejagat Pernah Janjikan Kesejahteraan Lewat Jogja-DEC


...

Totok Santoso Hadiningrat yang mengklaim dirinya sebagai Raja Keraton Agung Sejagat Purworejo.

Yogyakarta, Beritasatu.com - Nama Totok Santoso Hadiningrat yang mengklaim dirinya sebagai Raja Keraton Agung Sejagat (KAS) Purworejo bukan pertama kalinya menyita perhatian publik. Totok yang bersama istrinya yang dipanggil Kanjeng Ratu Dyah Gitarja, mengklaim bahwa mereka memiliki kekuasaan di seluruh dunia.

Berdasar penelusuran Suara Pembaruan (SP), Totok pernah muncul dalam sejumlah kegiatan yang menjanjikan akan bantuan finansial bagi pengikutnya. Janji tersebut dituangkannya dalam tulisan berjudul ‘Organisasi Baru Serupa Gafatar Mulai Menyebar di DIY’ pada Jumat, 4 Maret 2016 lalu. Totok melalui organisasi Jogja Development Committee (Jogja DEC), menjanjikan akan membagikan uang sebesar 100 hingga 200 AS $ per bulan kepada setiap anggotanya.

Uang tersebut diklaim berasal dari sebuah bank di Swiss yang menyimpan Esa Monetary Fund.

Sebuah dana, yang diklaim Totok, akan dibagikan kepada warga untuk memberi kesejahteraan kepada warga Indonesia namun akhirnya banyak anggota Jogja DEC memilih mundur karena janji pembagian uang tersebut tidak pernah terwujud.

Organisasi yang bernama Jogjakarta Development Committee (JOGJA-DEC) tersebut menyatakan diri sebagai organisasi yang bergerak di bidang kemanusiaan di wilayah Yogyakarta dan muncur setelah organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) dibubarkan pemerintah.

Menurut informasi yang menyebar ke tengah masyarakat, JOGJA-DEC membentuk panitia pembangunan wilayah Yogyakarta yang bekerja secara profesional di bidang kemanusiaan untuk membantu tugas-tugas pemerintah.

Untuk kegiatannya, JOGJA-DEC di-back-up secara finansial oleh ESA Monetary Fund sebagai lembaga keungan tunggal dunia yang berkantor pusat di Swiss yang dijalankan oleh banker Sunda ( Bank Kesejahteraan Rakyat Sunda ) yang berkantor di Bandung.

Masyarakat Cangkringan Sleman, saat itu, mendapat sosialisasi bahwa JOGJA-DEC mengajak masyarakat yang mau ikut menjadi anggota, dengan syarat membayar uang pendaftaran sebesar Rp 20.000, dan setelah menjadi anggota akan digaji per bulan sebesar Rp 5.000.000.

Untuk menjadi anggota, tidak ada ketentuan khusus, dan setiap anggota yang sudah mendaftar akan diberikan diklat.

Kepada anggota yang sudah terdaftar akan diberikan BLK (bantuan langsung kemanusiaan) sebesar US$ 50 sampai US$ 100 per bulan per orang dan asuransi jiwa sebesar US$ 100.

Setelah resmi menjadi anggota, akan mendapat NIK (nomor induk kemanusiaan) yang terdaftar dalam pengkajian informasi terpadu seluruh Indonesia dan diberi kartu identitas (ID Card).

JOGJA-DEC bahkan menggunakan logo PBB, serta mengklaim sumber dananya berasal dari Swiss.

Totok Santoso Hadiningrat yang meminta dirinya dipanggil Sinuhun, dan istrinya yang harus dipanggil dengan sebutan Kanjeng Ratu, berhasil menghimpun pengikut 400 orang lebih.

Para pengikut tersebut bukan dari desa sekitar, namun justru banyak berasal dari Yogyakarta.

Salah satu pengikutnya yang disebut dengan istilah ‘punggawa kerajaan’ berhasil dihubungi SP, Hartono, warga Seyegan Sleman, menyebutkan bahwa Kerajaan Agung Sejagat memang riil dan muncul sebagai pelunasan janji 500 tahun runtuhnya kerajaan Majapahit tahun 1518.

Kemunculan Kerajaan Agung Sejagat itu untuk menyambut kehadiran Sri Maharatu (Maharaja) Jawa kembali ke tanah Jawa.

Ketika dikonfirmasi keterkaitan antara Totok dengan Jogja-DEC, Hartono yang mengaku punya jabatan cukup penting itu, membenarkan, namun menurutnya, Totok sudah lama tidak berkecimpung di Jogja-DEC. “Sekarang diketuai orang Bandung, Pak Totok sudah lama tidak di Jogja DEC. Tapi benar dulu pernah,” ujarnya yang dihubungi via telepon pada Selasa (14/01/2020).

Bahkan menurut Hartono, Kerajaan Agung Sejagat itu sudah didaftarkan di Mahkamah Internasional, karena kerajaan itu bukan hanya untuk Indonesia, tetapi untuk seluruh dunia. “Sudah didaftarkan, kita tinggal menunggu pengesahannya oleh Mahkamah Internasional,” katanya.

Hartono pun menyinggung, sejumlah petinggi negara sudah mengetahui keberadaan kerajaan itu, bahkan Presiden Joko Widodo pun sesungguhnya sudah tahu.

“Setelah ada peresmian dari Mahkamah Internasional nanti, tapi kita juga belum tahu kapan turunnya, baru akan kita umumkan bentuk dari kerjaaan ini apakah seperti pemerintahan pada umumnya atau kerajaan, mengingat Pak Totok punya darah Raja Solo, dan istrinya juga trah Raja Yogya,” ujar Hartono yakin.

Apakah nasib para Punggawa Keraton Agung Sejagat itu akan bernasib sama dengan anggota Jogja-DEC, Hartono dengan keyakinannya menyatakan pasti tidak. 



Sumber : Suara Pembaruan