Salahkan Media Massa, Walikota Ambon Tidak Miliki Konsep Penyelesaian Bentrok


...

Walikota Ambon, Richard Louhenapessy [ambonekspres]

[AMBON] Walikota Ambon Richard Louhenapessy dinilai tidak miliki konsep penyelesaian bentrok massa karena itu sebaiknya jangan salahkan media massa.

“Hal yang paling mudah adalah menyalahkan pihak lain, lalu pertanggungjawab dan konsep pemerintah kota (pemkot) apa untuk menyelesaikan masalah-masalah yang selama ini terjadi,” kata pimpinan media lokal Ambon Harian Siwalima, Michael.L kepada SP Senin (19/12).

Hal ini dikatakannya menyusul pernyataan Walikota Ambon Richard Louhenapessy yang mengatakan, pihaknya mempunyai pengalaman yang tidak menguntungkan terhadap kota ini terutama jalur media massa. “Jika ada peristiwa maka dari sisi bisnis menguntungkan media,” ujar Walikota.


Pernyataan Walikota Ambon ini dikatakannya pada saat pertemuan bersama tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan bersama Kapolda Maluku Brigjen Polisi Syarief Gunawan, Kasdam XVI Pattimura Kolonel Napitupulu dan Wakil Gubernur (Wagub) Maluku Said Assagaf serta Kepala Kesbanglinmas Setda Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku di lantai 7 Kantor Gubernur Senin siang tadi.


Wartawan senior dari TVRI Ambon Lucky Sopacua  menilai sebaiknya jangan mengkambinghitamkan media, yang disebut tidak menguntungkan dari sisi yang mana ini harus diperjelas oleh Walikota. “Pascabentrok September hingga saat ini dengan berbagai peristiwa  media massa baik lokal maupun nasional lebih dominan memberitakan fakta,” ujar Lucky kepada SP via Senin (19/12) petang.


Redaktur Pelaksana (Redpel) media lokal Ambon Ekspres Yani Kubangun mengatakan, jika dinilai berita bentrok untuk kejar bisnis itu pendapat keliru, jangan sampai sebaliknya justru menguntungkan pemerintah. Media butuh iklan besar jika bicara bisnis, bukan peristiwa bentrok massa.
Tidak ada keuntungan dari sisi bisnis dengan oplah sepuluh ribupun tidak akan mampu membiayai media.

Iklan akan datang kalau Ambon atau Maluku aman.

Yani mengatakan, kalau tidak aman untuk apa orang promosi produknya ke daerah ini, kepentingan media  apa. Semua menginginkan Ambon damai, kalau damai akan banyak iklan masuk. Senada dengan itu Pimpinan Redaksi Media lokal tertua di Ambon Harian Suara Maluku Novi Pinontoan mengatakan, sebaiknya jangan ngawur jika tidak mengerti kerja media.

Media cetak umumnya merugi dengan adanya bentrok karena kurang pembeli, distribusi dan pemasaran terhambat serta penagihan juga terkendala  karena situasi dan kondisi tidak aman.
Novi menjelaskan, jika kerusuhan misalnya, berita sebagus apapun jika loper dan agen tidak berjualan karena takut dan trauma konflik lalu koran cetak mau mengambil keuntungan apa?

“Pengantar langganan sendiri hanya ingin mengantar ke kawasan-kawasan yang dinilai aman di komunitas masing-masing. Sudah begitu pelanggan hanya bayar koran yang diterima selebihnya tidak, apakah itu tidak rugi? Selain itu ongkos produksi naik karena untuk bayar tenaga tambahan jual koran atau antar pelanggan,” kata Novi kepada SP di Ambon Senin (19/12).

Sedangkan Redpel Radar Ambon Rudy Muhrim mengatakan, media selama ini mengedepankan fakta, dan tidak mungkin terjadi bentrok kemudian tidak di beritakan. Media tidak bisa eksis dengan hanya mengandalkan penjualan koran.  Praktisi hukum Latief Lahane kepada SP menyatakan, selama ini dirinya memontior berita on line dan website media tidak ada yang berlebihan dalam pemberitaan bentrok di Ambon. Bahkan media sangat menjaga etika karena mereka tidak secara mendetail membuka untuk menjaga kondisi sosial masing-masing komunitas.

“Ini sangat positif justru, jadi jika disebutkan untuk mencari keutungan rasanya tidak mungkin,” katanya.


Sementara Sekretaris KNPI Maluku Vicky Peilouw menyatakan, media massa selama ini tidak pernah membesar-besarkan masalah. Hanya kemampuan belum maksimal  untuk menggiring nara sumber dalam mengungkap fakta kondisi atau kasus.


“Kadang-kadang ini membuat warga bertanya-tanya dan bingung, sebenarnya apa yang terjadi di Ambon. Karena tidak ada penjelasan yang akurat soal pelaku atau aktor pembuat bentrok selama ini. Media diminta desak aparat keamanan untuk mengungkap fakta lebih jauh lagi,” katanya.[156]
 



Sumber : suarapembaruan