Solidaritas Kumpulkan Sandal bukan Cuma untuk AAL


...

Aksi Posko 1000 Sandal Jepit - Masyarakat mengumpulkan sejumlah sandal jepit sebagai bentuk solidaritas pada kasus AAL (15), siswa SMK Negeri 3 Kota Palu, Sulawesi Tengah, yang dihukum ancaman lima tahun karena mencuri sandal di Posko 1000 Sandal Jepit, Kantor Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jakarta, Kamis (29/12) ini untuk membebaskan AAl dengan mengumpulkan 1000 sandal jepit sebagai ganti sandal yang dicuri. FOTO : Ruht Semiono/ Suara Pembaruan

Pemerhati anak, Seto Mulyadi, menekankan gerakan dukungan '1000 sendal untuk AAL' ini  untuk menggerakkan kesadaran semua pihak atas keadilan bagi anak-anak.

"Ini ditujukan bukan untuk AAL saja, tetapi juga anak-anak yang saat ini juga terancam masuk penjara atau sudah dipidana di penjara yang kadang-kadang tidak jelas kesalahannya," ujar Seto di Jakarta, Selasa (3/1).

"Kalau kita mau dengan jujur menemui mereka di penjara anak atau penjara orang dewasa, itu akan menyadarkan kita kalau selama ini kita telah salah melangkah dengan meletakkan mereka di penjara. Itu hanya akan melahirkan berbagai perilaku kriminal yang lebih dahsyat di masa yang akan datang."

Secara psikologis, menurutnya, akan membentuk dendam yang betul-betul dahsyat yang akhirnya kita melihat sekarang berbagai kasus yang dipenuhi dengan kekerasan.

"Jadi ini mungkin harus segera disusul gerakan nasional untuk mencanangkan stop gerakan kekerasan dan kekejaman pada anak mulai tahun 2012 ini," tambahnya.

Dalam kasus ini, Seto menilai semua pihak bersalah, karena mengacu pada surat edaran Jaksa Agung Muda Pidana Umum tahun 1995 yang tegas menyatakan, jika untuk anak-anak betul-betul dilakukan yang terbaik.

"Jadi hukuman yang paling tepat dikembalikan kepada orang tuanya," jelasnya.

Seto Mulyadi sendiri berencana akan berangkat ke Palu, Sulawesi Tengah untuk menghadiri persidangan terhadap AAL dengan agenda vonis esok hari.

Ia juga akan mengklarifikasi kebenaran informasi yang diberikan oleh Mabes Polri mengenai hukuman terhadap AAL ini adalah murni hasil permintaan orangtua yang bersangkutan.

"Saya harap saya bisa bertemu dengan orangtuanya besok," tambahnya.

Namun dengan tanpa maksud menyalahkan kepolisian, Seto menilai pada intinya polisi memang seharusnya sebagai pengayom masyarakat, khususnya ketika dihadapkan dengan permasalahan anak yang berkonflik dengan hukum.

"Polisi harusnya bisa jadi penengah antara orangtua dan anak," tutupnya.