Warga Mulai Terganggu Aktivitas Keraton Agung Sejagat


...

Totok Santosa Hadiningrat dan istrinya Dyah Gitarja, menyebut diri sebagai Sinuhun dan Kanjeng Ratu Kerajaan Keraton Agung Sejagat, yang berlokasi di Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Semarang, Beritasatu.com – Warga Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo mulai merasa resah dan terganggu dengan aktivitas Keraton Agung Sejagat pimpinan Totok Santosa Hadiningrat.

Keresahan dan keluhan warga itu disampaikan Kepala Desa Slamet Purwadi, saat melaporkan Keraton Agung Sejagat kepada Camat Bayan.

"Saya menindaklanjuti laporan warga, saya teruskan ke Camat Bayan. Warga saya merasa terganggu dengan ritual yang dilakukan Keraton Agung Sejagat. Mereka menganggap ritual sesembahan menyimpang dari ajaran Islam. Pada intinya, warga ingin mereka pindah dari sana," kata Slamet Purwadi di Kantor Kecamatan Bayan, Senin (13/1/2020).

Slamet mengatakan, warga juga merasa terganggu dengan bau dupa yang dibakar saat ritual. Saat ditanya mengenai izin, pihak Keraton Agung Sejagat diakui Slamet, memang memberitahu pihak desa dan meminta pengantar izin keramaian kepada polisi. Namun pihak Polsek dan Polres tidak memberikan izin kegiatan Kirab dan Sidang Jumenengan.

Camat Bayan, Moehardjono menegaskan dalam waktu dekat akan memanggil pihak Keraton Agung Sejagat.

"Dalam 3-4 hari lagi saya akan memanggil pihak Keraton Agung Sejagat," tegasnya.

Komandan Kodim 07/08, Letkol Inf Muchlis Gasim terpisah menegaskan, kegiatan Keraton Agung Sejagat ilegal karena tidak mengantongi izin dari aparat yang berwenang.

"Semua kegiatan dan organisasi harus berlandas hukum, setiap mendirikan organisasi harus ada izin. Keraton Agung Sejagat saya rasa adalah ilegal. Namun belum ada bukti-bukti mereka makar," kata Dandim.

Gasim menegaskan akan mengambil tindakan sesuai koridor hukum. Dia juga meminta kades atau camat untuk membuat laporan bagaimana mengeliminasi kegiatan yang dianggap meresahkan.

Geger Munculnya “Kerajaan” di Purworejo, Ganjar Minta Diusut

Pengamat antropologi sosial dari Universitas Diponegoro Semarang, Amirudin menilai, apa yang terjadi di Purworejo itu sebagai bagian dari transnasionalisme.

Transnasionalisme adalah fenomena sosial dan agenda penelitian ilmiah yang muncul karena manusia semakin saling terhubung dan perbatasan ekonomi dan sosial antarnegara semakin kabur.

Klaim yang disampaikan Totok Santosa dengan Keraton Agung Sejagatnya, kata Amir, adalah upaya membangkitkan imaji kehidupan aristokrasi di era modern.

"Itu merupakan bagian dari respon warga terhadap transnasionalime,’’ ujar Ketua Program Studi Antropologi Sosial Fakultas Ilmu Budaya Undip tersebut, kepada SP dan Beritasatu.com, Selasa (14/1/2020).

Dalam konteks itu, Amir mengungkapkan, transnasionalisme biasanya akan ditanggapi dengan tiga jenis respon, yakni pertama, transformasi, yang berarti warga berpindah mengikuti irama budaya global. Kedua, kontinuum yang ditunjukan oleh sikap warga mengadaptasikan budaya lokal dengan budaya global sebagai pedoman dan arah tindakan; dan ketiga, resistensi yang berarti warga menolak budaya global dan kembali ke budaya asal.

Membangkitkan imaji kerajaan, menurut Amir, termasuk bagian dari kebudayaan postmodernisme yang arbitrer dengan tidak memproduksi budaya baru, tetapi sebaliknya, melawannya dengan kembali ke kebudayaan lama.

"Mereka mempreservasi kebudayaan lama dan menghadirkannya dalam alam modernitas sebagai bagian dari perlawanan,’’ ujar Amir.

Fenomena ini menurutnya sama persis dengan cara hidup orang Samin yang pro pada kebudayaan rakyat (folk culture).

"Bedanya dengan kelompok ini (Totok Santosa), lebih pro pada keinginan membangkitkan kebudayaan tinggi (high culture) yang pernah hidup dan tumbuh di alam aristokrasi,’’ tegasnya.

Amir tak menepis jika upaya membangkitkan imaji kerajaan ini tak lepas dari adanya motif ekonomi, seperti banyak kasus serupa yang pernah terjadi.

Dikatakan, keberhasilan membangkitkan imaji lama seperti itu, pada akhirnya ditentukan oleh sejauh mana imaji itu mendatangkan dukungan sebagai legitimasi. Maka untuk menghimpun dukungan, akan ada strategi pemasaraan (promosi) ide, hingga cara merekrut anggota.

Untuk membangun trust, mereka juga akan menggunakan berbagai cara, yang antara lain manfaatkan pula pendekatan mistisisme, membuat totem-totem (benda-benda sakral) baru yang dipersepsi mendatangkan tuah.

"’Pada saat totem-totem telah berhasil terpercaya, maka dari situ, totem-totem itu mulai dimanfaatkan sebagai investasi ekonomi yang menguntungkan,’’ tandasnya.



Sumber : Suara Pembaruan