Pengamat: Gerindra Tak Punya Pilihan Selain Bergabung dengan Pemerintah


...

Presiden Joko Widodo (kiri) dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kanan) makan siang bersama di salah satu pusat perbelanjaan di kawasan Senayan, Jakarta, Sabtu (13/7/2019).

Jakarta, Beritasatu.com - Isu Partai Gerindra bakal bergabung dalam Kabinet Joko Widodo (Jokowi) Jilid II semakin kencang berhembus. Bahkan, Gerindra disebut akan mendapat tiga posisi di pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin.

Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan (PSPK) Unpad, Muradi menilai bergabung ke pemerintah merupakan pilihan yang rasional bagi Gerindra ketimbang menjadi oposisi. Saat ini, kata Muradi, Gerindra tidak punya pilihan selain bergabung dengan Kabinet Jokowi.

"Gerindra tidak punya pilihan lain kecuali bergabung dengan pemerintah," kata Muradi kepada SP, Rabu (9/10/2019).

Dikatakan, untuk berada di luar pemerintahan membutuhkan sumber daya yang tidak sedikit. Sementara Gerindra yang sudah tiga periode berada di luar pemerintahan sangat bergantung pada sumber daya keluarga besar Prabowo Subianto yang semakin terbatas.

"Gerindra kalau ada di oposisi sumber daya mereka terbatas karena sangat tergantung pada keluarga besar Prabowo. Kalau itu dilakukan lagi akan menguntungkan Gerindra di 2024, tetapi pertanyaan berikutnya, sejauh mana itu bisa diolah karena menyangkut logistik dan daya tahan. Jadi oposisi itu kan siap susah dan siap punya resources yang lain. Sementara Gerindra hampir 15 tahun," katanya.

Muradi mengatakan, setelah 15 tahun menjadi oposisi, sudah waktunya bagi Gerindra untuk bergabung dengan pemerintah. Selain menyangkut logistik, dengan masuk kabinet, Gerindra memiliki waktu untuk menyiapkan kader-kader terbaik menghadapi Pemilu 2024 mendatang.

"Sekarang waktunya istirahat untuk menyiapkan logistik dan orang-orang baru karena tidak mungkin Prabowo maju lagi di 2024," katanya.

Tak hanya itu, Muradi menilai, Gerindra akan kehilangan orientasi sebagai partai politik jika terlalu lama menjadi oposisi bersama PKS dan PAN. Hal ini lantaran Gerindra pada dasarnya merupakan partai berkarakter nasionalis yang lebih nyaman menjalin hubungan dengan partai nasionalis lainnya seperti PDIP, Golkar dan Nasdem.

"Gerindra karakternya nasionalis. Dia Lebih nyaman dengan PDIP, Golkar, Nasdem, ketimbang PKS dan PAN. Buat saya sebenarnya khittah kembali basis awal Gerindra. Begitu lama-lama dengan PKS, dia (Gerindra) akan kehilangan orientasi sebagai partai politik. Itu membahayakan," katanya.

Di sisi lain, Muradi menilai bergabungnya Gerindra akan menguntungkan pemerintahan Jokowi-Ma'ruf. Setidaknya, Parlemen akan lebih stabil dengan gejolak dan manuver politik yang berkurang selama lima tahun ke depan. Dengan demikian, pemerintah dapat fokus mewujudkan program-program yang menjadi janji politik saat kampanye.

"Dari sisi pemerintah sederhana, stabilitas di parlemen. Gejolak yang berkaitan dengan manuver akan berkurang meskipun tetap ada. Ini sebenarnya membuat nyaman untuk kemudian pemerintah lebih fokus men-deliver program," katanya.

Muradi mengakui, bergabungnya Gerindra akan menimbulkan resistensi dari partai koalisi pendukung Jokowi-Ma'ruf. Muradi menilai resistensi tersebut hal yang wajar karena bergabungnya Gerindra akan berdampak pada jatah menteri partai pendukung lain. Namun, Muradi mengatakan, stabilitas pemeritahan melalui distribusi kekuasaan merupakan hal yang penting.

"Kalau partai koalisi tidak nyaman, pasti tidak nyaman karena pasti akan berkurang jatahnya. Tapi dalam politik ada distribusi kekuasaan, menjadi penting manjaga stabilitas pemerintahan," katanya.

Gerindra mengakui telah menyiapkan sejumlah nama jika diminta Jokowi masuk kabinet. Isu yang beredar menyebut Gerindra menyiapkan tiga nama calon menteri.

Muradi memprediksi Gerindra akan mendapat satu posisi menteri, sementara dua nama lainnya akan ditempatkan sebagai kepala badan atau wakil menteri.

"Feeling saya tidak lebih dari satu (menteri). Ada kepala badan dan wakil menteri. Kalau tiga menteri bisa bertengkar itu koalisi yang ada," katanya.



Sumber : Suara Pembaruan